30 Jul 2008 |
Dul Gepuk (4)

It’s A Cafe di Senayan City Jakarta. Dengan logotype A yang gothic. Bagian dari bisnis The House of Sampoerna, melengkapi jaringan clothing distro It’s A Store di pelbagai kota. Di sana gula terkemas biasa, apa adanya dari pemasok. Di sana orang leluasa berkepul asap tembakau. Di sana orang dapat mencapainya dari pelataran depan mal. Di sana, seperti juga di banyak tempat penyedia bacaan gratis, ada bagian majalah yang tersobek. Tepatnya disobek. Ada halaman yang hilang. Bukankah menyobek juga gratis?

30 Jul 2008 |
Dul Gepuk (4)
Tak tahulah kenapa kafe di Jalan Ahmad dahlan Jakarta itu memakai nama Ritual. Mungkin ngopi dan ngeteh memang ritual harian. Bukan soal hidup dan mati tetapi harus dilakoni. Kebiasaan memang bisa melekat menjadi kebutuhan tubuh, sadar maupun tak sadar.

Lantas suatu sore saya dan sejawat ke sana. Bukan karena kebiasaan. Bukan untuk ritual. Tapi sekadar berembuk di luar kantor karena tempat kerja kadang tak memberikan keleluasaan. Di sana ada minuman ada gula kantong. Hanya satu yang berbeda: di sana juga ada teh poci — bukan dengan gula kantong, tapi gula batu. Di sana ada kanvas untuk ditandatangani pengunjung. Ada nama Maria Eva. Entah kapan dia datang: sebelum atau sesudah heboh sesaat itu.
25 Jul 2008 |
masagus (2)

tiga jam lagi — “aku keburu,” katamu
masih ada waktu, kataku
bukankah kau pilih tempat dekat bandara agar tiada gegas berlebih?
tiga jam lagi — “harus check in dulu sejam sebelumnya kan?”
masih ada waktu untuk lemon tea panas seduhan sendiri, kataku
tiga jam lagi — “sekali-sekali temanilah aku sampai ke kotaku, mas…”
tidak, oh tidak
aku harus tetap di sini
ada banyak pekerjaan
untuk aktualisasi…
untuk organisasi…
“dan anak bini!” katamu sambil menahan tawa
boiler embuskan uap putih
mendidih
seperti kamu tadi
tiga jam lagi — “ahh nggak ada waktu, masa sih harus cetak kilat?”
kita tertawa
biarlah hasrat yang tersisa kita tabung untuk jumpa selanjutnya