Lobbyist, calo, petualang

tomodachi cafe jakarta

Beberapa kali kau memintaku bertemu. Ada bisnis bagus katamu. “Tampaknya kita bisa bekerja sama, Mas,” itu jurus andalanmu. Ada lagi kiatmu, “Di saat krismon dulu, yang ada duit itu pemerintah. Swasta tiarap semua. Maka kalau mau bisnis, dengan pemerintah saja. Soal duit dipotong, itu adalah cost.”

Lalu terdamparlah aku di cafe itu. Belasan tahun tak bersua aku kaget dan pangling melihatmu. Kau lebih muda dariku tapi tampak cepat menua, banyak beban — mungkin juga banyak nafsu kemaruk. Aku lebih banyak mendengar. Jangan terlalu idealis, katamu. Kubilang aku bukan idealis tapi aku menuruti hati (padahal uang menipis).

Kau keluarkan dua keping DVD talk show di TV (”Itu aku yang atur, buat jatuhkan si Anu. Dia digeser dari luar dan dari dalam. Aku bantu dari dalam. Pakai saja anak buahnya”). Aku makin tak tertarik permainan begituan. Mau dirut BMUN atau ketua KUD, atau juragan onderdil mocin, aku tak berkepentingan dengan naik atau jatuhnya mereka.

Kau sebut sejumlah media (”Ada orang-orangku di sana. Ya biasalah teman, bisa diajak kerja sama”). Kau katakan soal kontak dengan orang parlemen, salah satu nama kau dapat dari koboi flamboyan dari Senayan yang memang sehari-hari kudengar membawa pistol (”Mereka tak bawa partai, mereka itu seperti halnya kita butuh duit”).

“Ingat kawan kita, si Anu? Dia sudah hasilkan tiga doktor. Maksudku menuliskan disertasi untuk tiga bos. Pidato pakai ghost writer. Disertas juga boleh kok, hahahaha! Kemampuan akademis teman kita, meski cuma tamat S1, bisa menghasilkan lebih. Itulah bisnis, Mas. Dia juga mau bantu aku untuk banyak proyek.”

Pusing aku. Muak aku. Cappucinno siang itu telah habis. Obrolan tak juga usai kusambung hot choco. Dengan tabur gula. Kau tak juga paham bahwa aku sedari tadi menolak dengan halus. Kuakhiri pertemuan dengan alasan ada meeting berikutnya. Kau kedipkan mata, “Kalau ada kesulitan atau bisa lakukan sesuatu, kontak saja aku. Mas punya talenta untuk lakukan hal-hal penting.”

Aku ingat katamu tadi. Mengarah pada jebakan.

“Kadang orang tak butuh uang, tapi butuh entertainment.”

Aku tahu di handphone-mu ada sejumlah nama “ge-em”  penyedia escort. 

No Comments »

Leave a comment