Tanpa Nama

Di pojok itu. Diapit dinding kayu gelap. Dengan ambalan yang juga gelap. LED merah dalam ceruk rak mengesankan sesuatu yang oriental. Sering di sana aku. Sendirian. Meski ada wi-fi gratis aku lebih suka melamun, mencorat-coret, atau membaca. Kantong gula tanpa cafe menjadi pembatas buku. Hanya aku yang tahu itu di mana. Maksudku kau tak tahu, dan itu aman bagiku. Setiap kantomg gula yang menorehkan nama tempat hanya akan memancing interogasimu. Kapan, dengan siapa, ngapain aja. Padahal aku selalu sendirian. Pernah sih bluetooth minta perkenalan. Dari meja agak jauh. Biasa, penawaran diri. ![]()
By masagus (2)
This entry was posted on Monday, July 21st, 2008 at 11:40 pm and is filed under Kedai. You can follow any comments to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback from your own site.
This entry was posted on Monday, July 21st, 2008 at 11:40 pm and is filed under Kedai. You can follow any comments to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback from your own site.
fahmi!
eh tapi kenapa ya brown sugar diterjemahkan sbg gula merah? apakah brown = merah?
Comment — July 24, 2008 @ 7:43 am
niar
pacar posesif (kek di iklan rokok terbaru itu) hmmm pintar bermain kata2 keknya….salam.
Comment — July 24, 2008 @ 4:40 pm
Silly
Wah, tulisannya pendek, tapi menarik sekali.
benar apa kata paman tyo… disini juga nyaman
sukses terus yach,
salam kenal,
silly
Comment — July 30, 2008 @ 1:34 pm