Lobbyist, calo, petualang

11 Jul 2008 | Drustajumna Legawa (4)

tomodachi cafe jakarta

Beberapa kali kau memintaku bertemu. Ada bisnis bagus katamu. “Tampaknya kita bisa bekerja sama, Mas,” itu jurus andalanmu. Ada lagi kiatmu, “Di saat krismon dulu, yang ada duit itu pemerintah. Swasta tiarap semua. Maka kalau mau bisnis, dengan pemerintah saja. Soal duit dipotong, itu adalah cost.”

Lalu terdamparlah aku di cafe itu. Belasan tahun tak bersua aku kaget dan pangling melihatmu. Kau lebih muda dariku tapi tampak cepat menua, banyak beban — mungkin juga banyak nafsu kemaruk. Aku lebih banyak mendengar. Jangan terlalu idealis, katamu. Kubilang aku bukan idealis tapi aku menuruti hati (padahal uang menipis).

Kau keluarkan dua keping DVD talk show di TV (”Itu aku yang atur, buat jatuhkan si Anu. Dia digeser dari luar dan dari dalam. Aku bantu dari dalam. Pakai saja anak buahnya”). Aku makin tak tertarik permainan begituan. Mau dirut BMUN atau ketua KUD, atau juragan onderdil mocin, aku tak berkepentingan dengan naik atau jatuhnya mereka.

Gula yang mana, tanyamu ;)

11 Jul 2008 | Drustajumna Legawa (4)

gula-gula tak selamanya manis, kadang asam bahkan pahit

Laura Figy maumu. Oh, tidak. Aku memilihkan Diana Krall untukmu. Website dia juga ungu kan? Seperti kantong-kantong ini. The Girl in Another Room. Kau tersenyum. Meledek atau merayu, tanyamu. Terlalu sering kita bercanda. Yang serius dibalut gurauan. Juga tentang ini: kenapa aku di ruangmu — seperti juga tiga bulan silam.

Sebuah undangan

07 Jul 2008 | admin (1)

Menulislah di sini. Tentang kantong rasa. Untuk berbagi rasa melalui cerita. Kalau belum sempat kumpulkan atau memotret kantong gula dan sejenisnya, lakukanlah mulai hari ini. Lantas esok hari tulislah di sini, di blog kantongrasa.com ini.