09 Sep 2008 |
Paman Tyo (12)
Tak sopan datang terlambat. Tapi lalu lintas Ibu Kota kadang sulit ditebak. Maka daripada terlambat lebih baik datang lebih awal. Jauh lebih awal. Selebihnya adalah pemanfaatan waktu. Untunglah beberapa gedung perkantoran punya kedai. Misalnya salah satu menara di Mega Kuningan Jakarta. Bukan baca, bukan online, waktu dimanfaatkan untuk menikmati rasa terkantuk-kantuk. Menjemukan. Apa boleh buat. Demi tetesan rezeki dari orang yang akan saya temui.

09 Sep 2008 |
Paman Tyo (12)
Untuk kedua kalinya saya bersua dengannya, setelah sebelumnya hanya berkabar via e-mail dan SMS. Dia blogger, saya juga. Jumpa pertama sepekan sebelumnya, dalam sebuah acara yang lagi-lagi diselenggarakan oleh dotcomers yang sebagian besar bloggers. Serampung acara dia singgah ke markas saya, kemudian dia dan tamu satunya (yang juga baru ketemu pertama kali setelah sebelumnya hanya ber-e-mail-an) saya antar ke tempat blogger nongkrong saban Jumat malam.

Tentang pertemuan kedua, pada suatu malam di Senayan City Jakarta, bukan di Bali, itu berbau bisnis — tapi bau uangnya belum meruap. Dia melakukan presentasi dari laptopnya. Itu pun dengan was-was, “Nggak enak kalo logo kantor (pada presentasi) saya dilihat orang.”