tidak semua bisa diingat, kecuali..

13 Oct 2008 | kertas tulis (24)

 

Kemasan gula ini sepertinya sudah lama sekali terselip di laci meja kerjaku. Tidak ada nama atau merek yang bisa membantuku mengingat-ingat. Entah berasal dari resto atau kafe mana, atau hotel apa, aku lupa. Akan tetapi, aku tidak pernah lupa malam pertemuan pertama kita, sekitar tiga tahun yang lalu. Hari-hari sebelumnya adalah antisipasi penuh tanya dan keraguan. Hari-hari setelahnya adalah motivasi dan pengharapan.

Aku lupa, ini gula dari mana. Dan kemasan gula ini bukan kenang-kenangan perjumpaan malam itu. Tapi aku tidak lupa betapa aku berusaha mengingat-ingat aroma tubuhmu. Juga keinginan untuk menutup perpisahan dengan kecupan di pipi yang urung karena aku ragu.

Lebaran Hari Kedua

03 Oct 2008 | Paman Tyo (12)

Lebaran hari kedua. Sore itu banyak kedai penuh. Menurut beberapa pramusaji dua-tiga kedai, banyak tamu yang berlama-lama nongkrong. Bahkan ada meja dengan dua sofa untuk empat orang yang sejak berjam-jam lalu diduki satun orang. Malah ada meja yang akan saya duduki bersama keluarga langsung diserobot sebuah keluarga dengan memalangkan kereta bayi. Ternyata mereka hanya ingin ngobrol dengan keluarga di meja sebelah sambil beristirahat. Pramusaji tak berdaya. Alhirnya kami mendapatkan tempat di kedai tetangga.

Lebaran hari kedua, tenaga yang melayani berkurang. Banyak yang masih libur dan ambil cuti. Yang bertugas tampak kelelahan. Inilah saat untuk melatih kesabaran. Baki pramusaji bisa menyenggol bahu tamu. Minuman tumpah, mengotori baju. Hanya canggung bingung yang tampak dari wajah si pramusaji.

Lebih berat ujian kesabaran bagi mereka daripada tamu.

Generik, Apa Adanya

01 Oct 2008 | Paman Tyo (12)

Senin malam 29 September. Antrean di kasir pasar swalayan memanjang. Saya, yang belanja sendiri, pun lelah. Setelah keluar dari kasir balanjaan saya titipkan. Ternyta tempat penitipan juga penuh. Akhirnya toh bisa juga. Lalu saya ke kedai di seberang. Kapucino lama datangnya. Setelah ada, rasanya aneh, mana encer pula. Gula tanpa merek kedai tetap manis, tetapi ketika dicampurkan ke minuman malah membuat isi cangkir terasa kian aneh. Tentang cangkir inilah kesaksian saya. Bagian bawah luar seperti kena kotoran yang melekat. Adapun cawan tatakan sama saja, menghitam seolah terlekati sekian lama. Mungkin pengelola kedai memperlakukannya sebagai poci tembikar untuh teh: makin lama, dan makin tertempeli endapan, akan makin sedap. Tapi ini cangkir porselen.