Secangkir Kopi, Sofa dan Pemandangan di Luar Sana

Di kota semacam Jakarta, kesendirian dan kesunyian adalah sebuah kemewahan. Anehnya, dalam keramaian orang sering kali merasa kesepian. Kadang aku pun merasa demikian. Itu sebabnya, aku tidak terlalu suka berada di tempat ramai. Setelah naik turun eskalator di sebuah pusat perbelanjaan yang penuh sesak akibat pesta potongan harga, aku berniat untuk minum kopi saja di salah satu kedai. Kedai kopi A di lantai 1, penuh. Kedai kopi B di lantai 2, penuh. Kedai kopi C di sisi lain lantai 1, juga penuh. Aku memaklumi kebutuhan mereka untuk minum kopi, mengobrol, sembari melihat dan dilihat, akan tetapi aku tidak suka minum kopi di tempat berpengunjung kelewat padat. Kuteruskan langkah kakiku ke seputar mal, melihat-lihat etalase tanpa niat membeli dagangan mahal.

Hujan mereda. Kutinggalkan tempat riuh-rendah itu untuk check in sendirian di hotel yang berlokasi di Petamburan. Ketenangan yang kurindukan menyambutku di pintu kamar. Ada yang suka kehidupan malam nan gemerlap, ada yang suka kehangatan penuh canda di kafe penuh sesak, tentu ada pula yang lebih suka melampiaskan lelah di kamar singgah.

Pagi ini Kafe Teluk Jakarta juga dipenuhi para tamu dan keluarga yang berakhir pekan di hotel, sampai-sampai aku dan beberapa tamu lain harus menyantap sarapan di restoran cina di sebelahnya. Apa namanya? Ah, aku lupa, juga tidak merasa betah berlama-lama duduk di sana. Kupilih untuk mengakhiri pagi ini dengan minum kopi panas sendirian di kamar, bersama sofa dan pemandangan di luar sana.

2 Comments »

  1. antyo rentjoko

    wuiii fotonya bagus ini… weh punya membership cards macem2 hotel ya? pinjem dong buat kantor saya. :)

    Comment — November 9, 2008 @ 5:29 pm

  2. kertas tulis

    terima kasih, paman antyo. jadi malu nih, hehe :P

    Comment — November 11, 2008 @ 9:25 am

Leave a comment