Menakar Ketidakpantasan
Di kamar hotel di bilangan Kemang, Jakarta Selatan ini, gula, kopi dan teh tersedia masing-masing lebih dari dua sachet. Cocok untuk mereka yang check in beramai-ramai. Salah seorang kenalan lama pernah mengeluhkan kebiasaan wanitanya untuk bermalam di kamar hotel ketika pekerjaan di kantor menumpuk. Menurutnya, itu sama sekali tidak pantas. Aku jadi teringat sahabat lama yang kadang check in bersama sekian orang anak buahnya, ditanggung kantor, ketika mereka harus mengejar tenggat keesokan hari padahal pekerjaan hari itu baru usai selewat tengah malam. Mereka ke hotel untuk sekadar menumpang mandi dan memejamkan mata sejenak. Pulang ke rumah tidak menjadi pilihan di saat-saat tertentu, terutama jika pada pagi hari menuju kantor harus menghadapi kemacetan luar biasa.
Aku tidak terlalu menanggapi keluhan si kenalan lama, juga tidak mempertanyakan kebiasaan wanitanya. Menurutku, yang tidak pantas adalah jika aku check in ke kamar hotel untuk mencari hiburan dengan biaya dinas.
– Kamu juga pernah sengaja check in untuk bekerja, kan? Apa kamu tahu, Iwan Simatupang melahirkan karya-karya monumentalnya selama tinggal di sebuah kamar hotel?
This entry was posted on Friday, November 14th, 2008 at 4:46 pm and is filed under Hotel, Kamar, Singgah. You can follow any comments to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback from your own site.

No Comments »
Leave a comment