Lipstik di Bibir Cangkir
Malam itu lobi hotel tampak sepi. Hanya ada beberapa orang di sana. Seorang pemuda bercelana pendek yang asyik berselancar di dunia maya dengan laptopnya. Seorang pria kulit putih, entah dari negara mana, sibuk mondar-mandir dari kursi bar ke lounge, minta saluran TV diganti-ganti. Seorang pramutama bar perempuan yang cantik dan bersikap sangat lembut. Seorang pramuhotel yang sibuk melayani pertanyaan si pria kulit putih yang bertubi-tubi. Rupanya mereka pernah main kartu bersama malam sebelumnya.
Ketika kamu datang, aku belum sempat menyeruput kapucino yang mulai menghangat. Lalu kita mencoba koneksi internet dengan laptopku, namun gagal berkali-kali. “Laptop yang bingung, persis seperti orangnya yang suka bingung,” katamu. Malam itu Jakarta diguyur hujan, tapi candamu membuatku tak kedinginan. Di lobi hotel itu, setiap orang meneruskan kegiatannya masing-masing. Semakin lama, suara si pria kulit putih bercampur suara TV semakin semarak menghiasi ruangan dan membuat suasana jadi tidak tenang.
Laptop kumatikan di pengujung kencan, namun genggaman tanganmu menandakan malam masih panjang. Mengiakan ajakanmu untuk berpindah tempat, kuhabiskan kapucino yang telah mendingin. Ah, masih ada bekas lipstik di bibir cangkir yang tak sempat kuhapus karena tergesa. Kamu tersenyum, “Lebih baik di bibir cangkir daripada di kerah kemeja.”
This entry was posted on Wednesday, November 19th, 2008 at 6:46 pm and is filed under Hotel, Kencan, Singgah. You can follow any comments to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback from your own site.

No Comments »
Leave a comment