Melihat Wajahku
Pintu tertutup, lampu menyala, ketel listrik memanaskan air secara otomatis, menyambut mereka yang terbebas dari kehidupan di luar sana. Di selatan Jakarta yang berhias riuh rendah kehidupan malam, kudapati diriku menunggumu di ruang dingin bernuansa masa lalu. Atau, jangan-jangan wajahku, yang kucari di sela-sela kehadiranmu? Sebab apa yang kata mereka nyata, bisa saja bukan apa-apa. Dan apa yang kata mereka sejati, ternyata hanya ilusi. Pejal dalam bayangan, namun bak udara dalam genggaman.
Biarkan mereka yang tersiksa pura-pura. Aku menunggumu untuk melihat wajahku.
By kertas tulis (21)
This entry was posted on Sunday, December 28th, 2008 at 10:07 am and is filed under Hotel, Kamar, Kencan, Penting. You can follow any comments to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback from your own site.
This entry was posted on Sunday, December 28th, 2008 at 10:07 am and is filed under Hotel, Kamar, Kencan, Penting. You can follow any comments to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback from your own site.

No Comments »
Leave a comment