Amaris
Bermenit-menit kupandangi foto cangkir dan kemasan gula itu. Rasanya semua kenangan tengah memusuhiku, sehingga sulit untuk diungkapkan. Apa yang terjadi? Kurasa bukan sempitnya kamar itu yang telah mengungkung perasaanku, bukan pula pengap dan lembap yang samar menyapa indra penciumanku. Ah, aku ingat, buatmu itu sungguh mengganggu.
Malam itu, kamu melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh orang lain untukku. Sesuatu yang sebelumnya selalu kulakukan sendiri. Sebentuk perhatian intim yang manis dan menegangkan. Kupikir, tidak semua laki-laki pernah atau mau melakukan hal itu pada pasangannya.
“Di kamar tak disediakan sendok. Aku bingung bagaimana mengaduk minuman tanpa sendok,” kataku. Kamu menghibur tanpa mengeluh, “Pakai cara pramuka.” Kuikuti saranmu, sambil membayangkan kekonyolan anak remaja di sekolah dulu. Aku tersenyum membayangkan masa-masa itu. Tiba-tiba mataku basah, napasku terasa sesak. Baru setelah beberapa saat aku merasa tenang kembali. Mungkin aku yang berlebihan. Siapa yang tahu, di dunia ini ada jutaan orang pernah mengaduk minuman dengan gagang sikat gigi, untuk diberikan pada seseorang yang paling dia kasihi?
This entry was posted on Thursday, January 29th, 2009 at 12:03 pm and is filed under Hotel, Kamar, Kencan. You can follow any comments to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback from your own site.

Gwenelda
I’m impressed! You’ve managed the almost ipmsoisble.
Comment — April 21, 2011 @ 8:49 am