Waroeng Nostalgia

30 Jul 2009 | kertas tulis (24)

Belakangan ini kian banyak “warung modern” di ibu kota yang menyediakan minuman tradisional semacam wedang angsle atau wedang ronde. Seperti yang kukunjungi beberapa waktu lalu. Terik panas di luar tidak meredam keinginan untuk menyeruput wedang angsle, karena bagian dalam gedung perkantoran cenderung bersuhu seperti di pegunungan. Anomali.

Ketika memasuki sebuah warung modern yang menghidangkan berbagai santapan dan minuman tradisional, maka sebetulnya kita bukan lagi mencari rasa pemanja lidah. Sebuah cara baru untuk mengasah ingatan akan kenangan masa lalu. Nostalgia yang terbungkus nuansa tradisional.

Ruang Hening di Selatan Jakarta

29 Jul 2009 | kertas tulis (24)

Masihkah kamu ingat pertemuan lima bulan yang lalu di kamar ini? Kita bercengkerama sampai pagi, membicarakan banyak hal sembari mengikis penat dan rindu. Di selatan ibu kota yang sesak, ternyata masih ada pula sebuah sudut yang adem dan cukup tenang. Aku datang lebih dulu dan menyiapkan minuman, lalu kamu menyusul selepas acara di sebuah teater yang hanya sepelemparan batu dari sana. Cerita-ceritamu tidak pernah membosankan dan nyaris selalu membuat orang lain terpancing untuk bertanya dan bertanya. Jangan salahkan aku kalau ingin selalu menagih kisah baru di sebuah kamar, karena tempat pertemuan lain selalu dibatasi waktu dan kebisingan.

“Aku kangen ngobrol ngalor ngidul panjang lebar denganmu,” kataku.

“Suatu saat pasti kita ketemuan lagi, ngeteh, bertukar cerita,” jawabmu.

“Aku tidak begitu suka teh,” tukasku, “tapi tidak apa-apa. Boleh saja dalam sebuah pertemuan seseorang ngeteh dan yang lainnya ngopi.”

Kamu mengiyakan saja ucapanku.

Tumpahan Kopi di Sisi Cangkir

24 Jul 2009 | kertas tulis (24)

Sekilas kudengar pramusaji itu mengucapkan maaf, tetapi aku tidak bisa mendengar apa persisnya yang dia katakan. Suara musik dan obrolan para tamu di meja lain membuat ucapannya kurang jelas. Lalu kulihat tumpahan kopi itu di atas piring tatakan. Mungkin itulah yang membuat si pramusaji minta maaf. Mungkin ketergesaan membuatnya menumpahkan isi cangkir yang terlampau penuh. Mungkin juga mengelap tumpahan kopi tidak ada dalam deskripsi kerjanya. Mungkin di zaman serba instan, kehati-hatian sudah tergolong ke dalam kemewahan.