Dari Sebuah Serambi
13 Nov 2009 | kertas tulis (17)
Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menikmati kopi Gayo atau Javanica di kedai yang terletak di sebuah serambi pertokoan. Lalu menikmati lalu lalang manusia di pelataran dari balik jendela kedai. Sudah tiga dasawarsa lebih aku tinggal di kota ini, namun setiap kali aku mampir di pertokoan ini, jarang sekali kutemukan wajah-wajah yang kukenal dulu. Mungkin wajah-wajah itu sudah pindah ke kota lain, atau telah berubah sebegitu rupa hingga sulit untuk kukenali.
Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menapaki tepi jalan yang ditumbuhi pohon flamboyan. Jalan yang konon mengundang banyak wisatawan lokal karena dipenuhi tempat jajanan. Jalan yang memiliki sebuah taman mungil tempat aku bermain semasa kecil.
Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menyaksikan gedung-gedung tua yang menyimpan cerita lama. Gedung-gedung yang seakan membanggakan kekuatan struktur peninggalan Belanda. Gedung-gedung yang adakalanya terlihat rentan ketika harus melawan pergantian zaman.
Kelak, kalau kau berkunjung lagi ke kotaku.

