About
Kubawakan bagimu kisah tentang kantong rasa. Kantong kertas berisi gula, garam, atau lada. Kantong yang tersedia di kedai, kamar inap, dan perjalanan jauh. Kantong yang dengan mudah kita robek. Mungkin setelah itu kita remas dan campakkan. Tapi bisa juga kita jadikan pembatas halaman buku yang sedang kita baca. Kantong-kantong tak penting. Kantong yang tak bermakna setelah kosong.
Masih perlukah kenangan tentang kertas berlengket gula pengundang semut, kertas yang selayaknya lekas kita cemplungkan ke keranjang sampah, atau kita remas asal-asalan lantas kita masukkan ke asbak?
Bicara kenangan adalah bicara ingatan. Sayang ingatan kita terbatas. Maka selagi kita ingat, ada baiknya ingatan tentang kertas kantong tak penting itu kita pindahkan ke sini. Bahkan misalnya kita tak ingat apa yang terjadi bersamaan dengan tergenggamnya kertas itu, tuangkanlah ke sini. Masih ingat untuk berkata “Aku lupa waktu itu ngapain aja” adalah berkah.
Kita? Siapa? Aku, kau, dia, mereka.
Bermanfaatkah semua taburan kertas kantong rasa di blog ini bagi orang lain? Kita tak tahu. Kita pun boleh tak peduli sepanjang yang kita lakukan di sini tak mengganggu maupun terlebih merugikan orang lain.
Terima kasihku untuk buang waktumu, membaca tebaran kata ini sampai di sini. Tebaran kata yang tumpah dari kantong rasa yang tersobek. Keluar begitu saja dan setelah itu dilupakan. Tak apa.
Marilah kita lakukan sebuah kesia-siaan atas nama penghiburan dari.
Tabik dari kantong,
Admin

