Pernah menjadi simbol kemewahan

14 Jul 2008 | Drustajumna Legawa (4)

gula pesawat garuda indonesia

Naik pesawat sudah hal biasa bagi kebanyakan orang. Dulu di zaman para orang tua yang sudah lama almarhum, kadangtidak hanya sendok teh yang dibawa pulang, bahkan gula dalam kantong pun dibawa untuk kenang-kenangan bahkan oleh-oleh. Dulu cara yang terjangkau padahal mahal untuk pergi jauh adalah naik kapal, misalnya pergi haji ke tanah suci.

muak jakarta, rindu jakarta, benci cinta

12 Jul 2008 | Drustajumna Legawa (4)

di sini kau merasa tenang, “jauh dari jakarta. terpencil, tanpa kemacetan. handphone kumatikan.” sesekali kau ajak becanda barista dan bartender. selebihnya adalah kolam renang dan baring, “kagak pake berjemur lah, entar jadi item, kita kan bukan bule.” lima buku kau bawa. “macbook air aku bawa tapi aku anggurin di kamar. males buat online.”

cerita klise. tiada kesan. sama juga ini, “kalo kelamaan di sini bete juga. aku tuh suka jakarta, tapi sering muak, bosen, marah. di sisi lain, kalo jauh dari sana rasanya kangen juga.” aku paham. dan sepakat.

“rejeki, cinta, degup hidup, ada si sana. semua petualangan ujungnya atau awalnya juga di jakarta. atau tengahnya juga di jakarta.”

di jari manismu tak ada cincin. belum ada? atau ada tapi tak kau kenakan? atau memang tak perlu cincin? kilat matamu menangkap ekor pandanganku ke jari. “kenapa? mau tau ya?” tanyamu dengan kerling dan menahan tawa. “kamu ada di facebook gak?” tanyamu lagi. hari sudah berganti, tinggalkan sejam dari kemarin. “mau tutup boss,” kata bartender.

Lobbyist, calo, petualang

11 Jul 2008 | Drustajumna Legawa (4)

tomodachi cafe jakarta

Beberapa kali kau memintaku bertemu. Ada bisnis bagus katamu. “Tampaknya kita bisa bekerja sama, Mas,” itu jurus andalanmu. Ada lagi kiatmu, “Di saat krismon dulu, yang ada duit itu pemerintah. Swasta tiarap semua. Maka kalau mau bisnis, dengan pemerintah saja. Soal duit dipotong, itu adalah cost.”

Lalu terdamparlah aku di cafe itu. Belasan tahun tak bersua aku kaget dan pangling melihatmu. Kau lebih muda dariku tapi tampak cepat menua, banyak beban — mungkin juga banyak nafsu kemaruk. Aku lebih banyak mendengar. Jangan terlalu idealis, katamu. Kubilang aku bukan idealis tapi aku menuruti hati (padahal uang menipis).

Kau keluarkan dua keping DVD talk show di TV (”Itu aku yang atur, buat jatuhkan si Anu. Dia digeser dari luar dan dari dalam. Aku bantu dari dalam. Pakai saja anak buahnya”). Aku makin tak tertarik permainan begituan. Mau dirut BMUN atau ketua KUD, atau juragan onderdil mocin, aku tak berkepentingan dengan naik atau jatuhnya mereka.