11 Jun 2010 |
kertas tulis (21)

Apa ya, yang dicari orang ketika meneguk secangkir kopi? Aromanya yang wangi dan lembut membelai indra penciuman sejak ketika kita menyeduhnya? Rasa pekat bernuansa asam yang memanjakan ujung lidah hingga pangkal kerongkongan? Atau, kandungan kafeina yang menyegarkan dan konon membikin kita ketagihan?
Nikmat, sungguh nikmat. Bukan hanya karena pagi itu aku perlu ekstra kafeina. Juga bukan sekadar penasaran mencicipi rasa pilihan alam. Kamu tentu tahu, alam punya kemampuan istimewa untuk memilih yang terbaik, kemampuan yang kadang tak terjangkau melalui otak kecil manusia.
Kopi ini mungkin lebih cocok diminum sore hari, sebagai penghilang penat, bukan pembangkit semangat. Namun, tak apa, buatku batasan waktu hanya membuat kesempurnaan tak lagi bisa dinikmati. Kopi hitam pekat yang woody dengan sebungkus kecil gula pasir, melengkapi pagi menjelang siangku yang sempurna bersamamu, sang lelaki pagi.
28 May 2010 |
kertas tulis (21)

+ Kamu nggak menulis pengalaman dan fantasimu buat situs erotis itu? Kan bahasa Inggris-mu bagus…
- Ah Mas.. I’m not that good actually.. Lagian slank-nya gak paham
+ Lagian buang waktu kan, ya? Tujuannya cari bahan buat fantasi kok malah nulis. Kecuali dibayar kali ya, sebagai penulis?
- Bukan, aku kurang imajinatif. Kalau aku kreatif, pasti cepat bikin tulisan. Kadang seperti yang dulu itu, menulis bisa bikin *** juga, soalnya membayangkan…
+ Nggak dibikin puisi?
- Puisi… jadinya subtil dong. Nggak hardcore lagi… Meskipun ada juga puisi yang bikin imajinasi meliar ke mana2..
+ 
13 May 2010 |
kertas tulis (21)

Lapar. Itulah kunci menuju kenikmatan ketika bersantap. Selezat apa pun makanan, kalau kita melahapnya ketika kenyang, kenikmatan akan berkurang. Sebaliknya, makanan yang tadinya terkesan biasa justru akan terasa nikmat bila disantap dengan perut yang kelaparan.
Kenikmatan yang kadang tak terduga datang setelah sekian lama. Kali ini, aku berusaha tidak memikirkan atau mencari jawab tentang sesuatu yang sulit dijelaskan dan begitu impulsif. Di kepalaku muncul suara samar-samar, “Nikmati saja. Tak usah dipikirkan.”