Penantian. Apa Boleh Buat…

09 Sep 2008 | Paman Tyo (12)

Tak sopan datang terlambat. Tapi lalu lintas Ibu Kota kadang sulit ditebak. Maka daripada terlambat lebih baik datang lebih awal. Jauh lebih awal. Selebihnya adalah pemanfaatan waktu. Untunglah beberapa gedung perkantoran punya kedai. Misalnya salah satu menara di Mega Kuningan Jakarta. Bukan baca, bukan online, waktu dimanfaatkan untuk menikmati rasa terkantuk-kantuk. Menjemukan. Apa boleh buat. Demi tetesan rezeki dari orang yang akan saya temui.

daily bread @ mega kuningan jakarta

Kopdar untuk Bisnis

09 Sep 2008 | Paman Tyo (12)

Untuk kedua kalinya saya bersua dengannya, setelah sebelumnya hanya berkabar via e-mail dan SMS. Dia blogger, saya juga. Jumpa pertama sepekan sebelumnya, dalam sebuah acara yang lagi-lagi diselenggarakan oleh dotcomers yang sebagian besar bloggers. Serampung acara dia singgah ke markas saya, kemudian dia dan tamu satunya (yang juga baru ketemu pertama kali setelah sebelumnya hanya ber-e-mail-an) saya antar ke tempat blogger nongkrong saban Jumat malam.

raja\'s cafe @ senayan city jakarta

Tentang pertemuan kedua, pada suatu malam di Senayan City Jakarta, bukan di Bali, itu berbau bisnis — tapi bau uangnya belum meruap. Dia melakukan presentasi dari laptopnya. Itu pun dengan was-was, “Nggak enak kalo logo kantor (pada presentasi) saya dilihat orang.”

Dari Slametan Cerpenista

19 Aug 2008 | Paman Tyo (12)

Saya dan rombongan menginap di Wisma Djoglo, Yogya, untuk acara peluncuran Cerpenista. Tiba sudah petang, begitu masuk kamar langsung disodori kopi hangat (bukan panas). Saya pikir lumayan juga layanan tempat lama di timur kota ini. Ternyata setelahnya pesanan demi pesanan minuman selalu lama selesainya. Teh dan kopi paling cepat 20 menit. Entah berapa lama lagi untuk teh poci — misalkan ada. Selebihnya adalah perjalanan berkereta api yang melelahkan (pergi-pulang), Ndoro Bedhes yang ketinggalan pesawat, dan gayeng-gayengan bareng teman-teman seusai acara. Yang penting senang — terutama selama di Yogya.