Ruang Hening di Selatan Jakarta

29 Jul 2009 | kertas tulis (24)

Masihkah kamu ingat pertemuan lima bulan yang lalu di kamar ini? Kita bercengkerama sampai pagi, membicarakan banyak hal sembari mengikis penat dan rindu. Di selatan ibu kota yang sesak, ternyata masih ada pula sebuah sudut yang adem dan cukup tenang. Aku datang lebih dulu dan menyiapkan minuman, lalu kamu menyusul selepas acara di sebuah teater yang hanya sepelemparan batu dari sana. Cerita-ceritamu tidak pernah membosankan dan nyaris selalu membuat orang lain terpancing untuk bertanya dan bertanya. Jangan salahkan aku kalau ingin selalu menagih kisah baru di sebuah kamar, karena tempat pertemuan lain selalu dibatasi waktu dan kebisingan.

“Aku kangen ngobrol ngalor ngidul panjang lebar denganmu,” kataku.

“Suatu saat pasti kita ketemuan lagi, ngeteh, bertukar cerita,” jawabmu.

“Aku tidak begitu suka teh,” tukasku, “tapi tidak apa-apa. Boleh saja dalam sebuah pertemuan seseorang ngeteh dan yang lainnya ngopi.”

Kamu mengiyakan saja ucapanku.

Amaris

29 Jan 2009 | kertas tulis (24)

Bermenit-menit kupandangi foto cangkir dan kemasan gula itu. Rasanya semua kenangan tengah memusuhiku, sehingga sulit untuk diungkapkan. Apa yang terjadi? Kurasa bukan sempitnya kamar itu yang telah mengungkung perasaanku, bukan pula pengap dan lembap yang samar menyapa indra penciumanku. Ah, aku ingat, buatmu itu sungguh mengganggu.

Malam itu, kamu melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh orang lain untukku. Sesuatu yang sebelumnya selalu kulakukan sendiri. Sebentuk perhatian intim yang manis dan menegangkan. Kupikir, tidak semua laki-laki pernah atau mau melakukan hal itu pada pasangannya.

“Di kamar tak disediakan sendok. Aku bingung bagaimana mengaduk minuman tanpa sendok,” kataku. Kamu menghibur tanpa mengeluh, “Pakai cara pramuka.” Kuikuti saranmu, sambil membayangkan kekonyolan anak remaja di sekolah dulu. Aku tersenyum membayangkan masa-masa itu. Tiba-tiba mataku basah, napasku terasa sesak. Baru setelah beberapa saat aku merasa tenang kembali. Mungkin aku yang berlebihan. Siapa yang tahu, di dunia ini ada jutaan orang pernah mengaduk minuman dengan gagang sikat gigi, untuk diberikan pada seseorang yang paling dia kasihi?

Melihat Wajahku

28 Dec 2008 | kertas tulis (24)

Pintu tertutup, lampu menyala, ketel listrik memanaskan air secara otomatis, menyambut mereka yang terbebas dari kehidupan di luar sana. Di selatan Jakarta yang berhias riuh rendah kehidupan malam, kudapati diriku menunggumu di ruang dingin bernuansa masa lalu. Atau, jangan-jangan wajahku, yang kucari di sela-sela kehadiranmu? Sebab apa yang kata mereka nyata, bisa saja bukan apa-apa. Dan apa yang kata mereka sejati, ternyata hanya ilusi. Pejal dalam bayangan, namun bak udara dalam genggaman.

Biarkan mereka yang tersiksa pura-pura. Aku menunggumu untuk melihat wajahku.