Menakar Ketidakpantasan

14 Nov 2008 | kertas tulis (24)

 

grand flora kemang

Di kamar hotel di bilangan Kemang, Jakarta Selatan ini, gula, kopi dan teh tersedia masing-masing lebih dari dua sachet. Cocok untuk mereka yang check in beramai-ramai. Salah seorang kenalan lama pernah mengeluhkan kebiasaan wanitanya untuk bermalam di kamar hotel ketika pekerjaan di kantor menumpuk. Menurutnya, itu sama sekali tidak pantas. Aku jadi teringat sahabat lama yang kadang check in bersama sekian orang anak buahnya, ditanggung kantor, ketika mereka harus mengejar tenggat keesokan hari padahal pekerjaan hari itu baru usai selewat tengah malam. Mereka ke hotel untuk sekadar menumpang mandi dan memejamkan mata sejenak. Pulang ke rumah tidak menjadi pilihan di saat-saat tertentu, terutama jika pada pagi hari menuju kantor harus menghadapi kemacetan luar biasa.

Aku tidak terlalu menanggapi keluhan si kenalan lama, juga tidak mempertanyakan kebiasaan wanitanya. Menurutku, yang tidak pantas adalah jika aku check in ke kamar hotel untuk mencari hiburan dengan biaya dinas.

– Kamu juga pernah sengaja check in untuk bekerja, kan? Apa kamu tahu, Iwan Simatupang melahirkan karya-karya monumentalnya selama tinggal di sebuah kamar hotel?

Secangkir Kopi, Sofa dan Pemandangan di Luar Sana

07 Nov 2008 | kertas tulis (24)

Di kota semacam Jakarta, kesendirian dan kesunyian adalah sebuah kemewahan. Anehnya, dalam keramaian orang sering kali merasa kesepian. Kadang aku pun merasa demikian. Itu sebabnya, aku tidak terlalu suka berada di tempat ramai. Setelah naik turun eskalator di sebuah pusat perbelanjaan yang penuh sesak akibat pesta potongan harga, aku berniat untuk minum kopi saja di salah satu kedai. Kedai kopi A di lantai 1, penuh. Kedai kopi B di lantai 2, penuh. Kedai kopi C di sisi lain lantai 1, juga penuh. Aku memaklumi kebutuhan mereka untuk minum kopi, mengobrol, sembari melihat dan dilihat, akan tetapi aku tidak suka minum kopi di tempat berpengunjung kelewat padat. Kuteruskan langkah kakiku ke seputar mal, melihat-lihat etalase tanpa niat membeli dagangan mahal.

Hujan mereda. Kutinggalkan tempat riuh-rendah itu untuk check in sendirian di hotel yang berlokasi di Petamburan. Ketenangan yang kurindukan menyambutku di pintu kamar. Ada yang suka kehidupan malam nan gemerlap, ada yang suka kehangatan penuh canda di kafe penuh sesak, tentu ada pula yang lebih suka melampiaskan lelah di kamar singgah.

Pagi ini Kafe Teluk Jakarta juga dipenuhi para tamu dan keluarga yang berakhir pekan di hotel, sampai-sampai aku dan beberapa tamu lain harus menyantap sarapan di restoran cina di sebelahnya. Apa namanya? Ah, aku lupa, juga tidak merasa betah berlama-lama duduk di sana. Kupilih untuk mengakhiri pagi ini dengan minum kopi panas sendirian di kamar, bersama sofa dan pemandangan di luar sana.

Menjerang Lamunan

30 Oct 2008 | kertas tulis (24)

Isi cangkir kopiku sudah hampir habis, tetapi dia belum datang juga. Sesekali kutepuk dengan hati-hati kulit di daerah pipi, dahi dan hidungku dengan kertas tisu, untuk menyeka lembap. Aneh, di kamar hotel yang dingin dan kering ini, wajahku lembap. Mungkin karena gugup. Dua setengah tahun setelah kencan pertama, perasaan gugup itu masih ada.

Mengapa akhirnya kami memilih hotel ini? “Hotel ini dekat dengan kantormu, juga kantorku,” katanya. Akan tetapi, ini hotel tua. Di salah satu sudut hotel, entah udara atau air dari saluran yang berusia belasan tahun menimbulkan bunyi bising yang bergema dari kamar atas hingga ke kamar di bawahnya. Lalu gema di bagian lantai tertentu menimbulkan suara mirip ketukan di pintu. Seperti di film horor. Saat aku mengeluhkan hal ini lewat SMS, dia hanya menjawab, “Tenang. Ada Mas.” Tapi, dia tidak ada di sana ketika bebunyian itu ada.

Sejam berlalu, memasuki jam kedua. Perasaanku semakin tak menentu. Kuambil botol body spray di kamar mandi, kusemprotkan ke seluruh tubuhku sekali lagi. The Body Shop, Velique. Ini wangi kesukaannya, satu hal yang membuatku senang karena ini pun wangi kesukaanku. Setiba di kamar tadi, aku langsung mandi dan berdandan. Kami jarang sekali bisa bertemu, kalaupun bisa hanya beberapa jam. Namun, aku ingin selalu terlihat cantik di hadapannya. Oh, ada cermin satu badan di sisi kiri pintu kamar mandi. Aku mematut diri, merapikan lagi rias wajahku.

“Masih mampukah aku membuatmu bergairah?” tanyaku suatu ketika setelah badai yang kami ciptakan mereda. Dia diam saja. Diteguknya teh yang mulai hangat, lalu tubuhnya digeliatkan. Setengah baya, matang, memancing keingintahuan para wanita tak berpengalaman. Beberapa menit kemudian dia tertidur, mendahuluiku yang asyik terkagum memandangi wajahnya dan matanya yang terpejam. Diiringi dengkurannya yang lembut, aku terus menatapnya, seakan-akan itulah kali terakhir pertemuan kami. Kupeluk erat-erat punggungnya saat dia perlahan-lahan berbalik membelakangiku. Malam itu aku merasa sangat aman.

Suara air mendidih membuyarkan lamunan. Kujelang seduhan kopi kedua menjelang tengah malam.