28 Oct 2008 |
kertas tulis (21)

Sebelum meninggalkan kamar pagi itu, aku sempat minum kopi instan dengan bubuk krim dan gula palem. Di kemasannya tertulis brown sugar. Arti harfiahnya, “gula cokelat”. Aku nyaris tidak pernah minum kopi dengan gula palem. Biasanya gula pasir atau tanpa gula. Namun untuk petualangan rasa, bolehlah sesekali aku coba. Kuhirup kopi yang mulai menghangat, rasa legit menyapa dari gula cokelat. Kerinduan menghadirkan dirinya lamat-lamat. Sedang apakah kau sekarang, lelaki berkulit cokelat dengan senyuman nan hangat?
20 Oct 2008 |
kertas tulis (21)

Pilih mana, gula atau pemanis? Terlalu banyak mengonsumsi gula tentu tidak baik. Banyak orang kecanduan gula, dan hanya berhenti ketika sudah benar-benar sakit. Dengan serbuk pemanis, kita tidak akan mendapatkan rasa manis sejati gula. Manisnya sih manis, tapi tidak membuatmu ingin lagi dan lagi. Konon, segala sesuatu yang buatan hanya akan memberikan kesenangan di permukaan. Bagaimanapun, kamu mengaku bukan penggemar gula, bahkan minum teh sering nyaris tawar saja. Aku sudah hafal, dan menyeduhkan teh buatmu kuanggap ritual 
25 Jul 2008 |
masagus (2)

tiga jam lagi — “aku keburu,” katamu
masih ada waktu, kataku
bukankah kau pilih tempat dekat bandara agar tiada gegas berlebih?
tiga jam lagi — “harus check in dulu sejam sebelumnya kan?”
masih ada waktu untuk lemon tea panas seduhan sendiri, kataku
tiga jam lagi — “sekali-sekali temanilah aku sampai ke kotaku, mas…”
tidak, oh tidak
aku harus tetap di sini
ada banyak pekerjaan
untuk aktualisasi…
untuk organisasi…
“dan anak bini!” katamu sambil menahan tawa
boiler embuskan uap putih
mendidih
seperti kamu tadi
tiga jam lagi — “ahh nggak ada waktu, masa sih harus cetak kilat?”
kita tertawa
biarlah hasrat yang tersisa kita tabung untuk jumpa selanjutnya