11 Jun 2010 |
kertas tulis (21)

Apa ya, yang dicari orang ketika meneguk secangkir kopi? Aromanya yang wangi dan lembut membelai indra penciuman sejak ketika kita menyeduhnya? Rasa pekat bernuansa asam yang memanjakan ujung lidah hingga pangkal kerongkongan? Atau, kandungan kafeina yang menyegarkan dan konon membikin kita ketagihan?
Nikmat, sungguh nikmat. Bukan hanya karena pagi itu aku perlu ekstra kafeina. Juga bukan sekadar penasaran mencicipi rasa pilihan alam. Kamu tentu tahu, alam punya kemampuan istimewa untuk memilih yang terbaik, kemampuan yang kadang tak terjangkau melalui otak kecil manusia.
Kopi ini mungkin lebih cocok diminum sore hari, sebagai penghilang penat, bukan pembangkit semangat. Namun, tak apa, buatku batasan waktu hanya membuat kesempurnaan tak lagi bisa dinikmati. Kopi hitam pekat yang woody dengan sebungkus kecil gula pasir, melengkapi pagi menjelang siangku yang sempurna bersamamu, sang lelaki pagi.
13 May 2010 |
kertas tulis (21)

Lapar. Itulah kunci menuju kenikmatan ketika bersantap. Selezat apa pun makanan, kalau kita melahapnya ketika kenyang, kenikmatan akan berkurang. Sebaliknya, makanan yang tadinya terkesan biasa justru akan terasa nikmat bila disantap dengan perut yang kelaparan.
Kenikmatan yang kadang tak terduga datang setelah sekian lama. Kali ini, aku berusaha tidak memikirkan atau mencari jawab tentang sesuatu yang sulit dijelaskan dan begitu impulsif. Di kepalaku muncul suara samar-samar, “Nikmati saja. Tak usah dipikirkan.”
13 Nov 2009 |
kertas tulis (21)

Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menikmati kopi Gayo atau Javanica di kedai yang terletak di sebuah serambi pertokoan. Lalu menikmati lalu lalang manusia di pelataran dari balik jendela kedai. Sudah tiga dasawarsa lebih aku tinggal di kota ini, namun setiap kali aku mampir di pertokoan ini, jarang sekali kutemukan wajah-wajah yang kukenal dulu. Mungkin wajah-wajah itu sudah pindah ke kota lain, atau telah berubah sebegitu rupa hingga sulit untuk kukenali.
Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menapaki tepi jalan yang ditumbuhi pohon flamboyan. Jalan yang konon mengundang banyak wisatawan lokal karena dipenuhi tempat jajanan. Jalan yang memiliki sebuah taman mungil tempat aku bermain semasa kecil.
Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menyaksikan gedung-gedung tua yang menyimpan cerita lama. Gedung-gedung yang seakan membanggakan kekuatan struktur peninggalan Belanda. Gedung-gedung yang adakalanya terlihat rentan ketika harus melawan pergantian zaman.
Kelak, kalau kau berkunjung lagi ke kotaku.