Dari Sebuah Serambi

13 Nov 2009 | kertas tulis (17)

Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menikmati kopi Gayo atau Javanica di kedai yang terletak di sebuah serambi pertokoan. Lalu menikmati lalu lalang manusia di pelataran dari balik jendela kedai. Sudah tiga dasawarsa lebih aku tinggal di kota ini, namun setiap kali aku mampir di pertokoan ini, jarang sekali kutemukan wajah-wajah yang kukenal dulu. Mungkin wajah-wajah itu sudah pindah ke kota lain, atau telah berubah sebegitu rupa hingga sulit untuk kukenali.

Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menapaki tepi jalan yang ditumbuhi pohon flamboyan. Jalan yang konon mengundang banyak wisatawan lokal karena dipenuhi tempat jajanan. Jalan yang memiliki sebuah taman mungil tempat aku bermain semasa kecil.

Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menyaksikan gedung-gedung tua yang menyimpan cerita lama. Gedung-gedung yang seakan membanggakan kekuatan struktur peninggalan Belanda. Gedung-gedung yang adakalanya terlihat rentan ketika harus melawan pergantian zaman.

Kelak, kalau kau berkunjung lagi ke kotaku.

Teh Tawar Salihara

16 Aug 2009 | Paman Tyo (12)

Kadang saya menikmatin teh melati Jawa tanpa gula. Kalau pun pakai ya sedikit saja. Akibatnya gula yang disertakan pun tak terpakai. Yang jelas, di Kedai Salihara, Jakarta Selatan, kantong gulanya belum berdesain khusus. Mungkin kelak dirancang khusus, menyertai cemilan yang dikemas khusus — yang saya gemari adalah gadung. Yang terpotret ini keripik pisang, pesanan kedua anak saya.

teh kedai salihara

Bengawan Solo

06 Aug 2009 | Paman Tyo (12)

Bengawan Solo akhirnya identik dengan lagu ciptaan Gesang, terutama bagi orang Jepang. Di salah cabangnya, di Bandara Soekarno-Hatta, saya melewatkan sore sambil menunggu anak pulang dari Bangkok. Sebuah kedai yang mungil, dengan dapur yang sangat kompak, wajan penggoreng hanya satu setengaj jengkal kali sejengkal, pramusajinya hanya satu,  karena dia tak perlu mencuci gelas — tapi masih mencuci piring entah di mana. Semua minuman disajikan dalam cangkir plastik. Meskipun ini warung kopi, saya memesan teh.

kafe bengawan solo bandara soekarno hatta