16 Aug 2009 |
Paman Tyo (12)
Kadang saya menikmatin teh melati Jawa tanpa gula. Kalau pun pakai ya sedikit saja. Akibatnya gula yang disertakan pun tak terpakai. Yang jelas, di Kedai Salihara, Jakarta Selatan, kantong gulanya belum berdesain khusus. Mungkin kelak dirancang khusus, menyertai cemilan yang dikemas khusus — yang saya gemari adalah gadung. Yang terpotret ini keripik pisang, pesanan kedua anak saya.

06 Aug 2009 |
Paman Tyo (12)
Bengawan Solo akhirnya identik dengan lagu ciptaan Gesang, terutama bagi orang Jepang. Di salah cabangnya, di Bandara Soekarno-Hatta, saya melewatkan sore sambil menunggu anak pulang dari Bangkok. Sebuah kedai yang mungil, dengan dapur yang sangat kompak, wajan penggoreng hanya satu setengaj jengkal kali sejengkal, pramusajinya hanya satu, karena dia tak perlu mencuci gelas — tapi masih mencuci piring entah di mana. Semua minuman disajikan dalam cangkir plastik. Meskipun ini warung kopi, saya memesan teh.

06 Aug 2009 |
Paman Tyo (12)
Kebetulan saya dan keluarga mendapatkan meja yang merapat ke dinding. Makanan belum datang, keisengan saya sudah muncul. Wadah kantong gula saya pindahkan ke atas permukaan tonjolan dinding. Permukaan itu mendapatkan cahaya dari bawah sebagai cara untuk menonjolkan dekorasi ruangan. Dan inilah hasilnya. Sudut pengambilan yang lain pernah saya muat di Oh!.