Lelucon Es Krim

01 Jun 2009 | kertas tulis (24)

Duduk di antara para penikmat es krim, melayangkan lamunan dan membuat ingatanku terdampar pada kenangan manis tiga setengah tahun yang lalu. “Ya, dia suka es krim,” begitu ujarmu pada perempuan pramusaji yang menanyakan pesanan kita malam itu, di pertemuan kedua yang teramat sangat kunantikan. Ucapan singkat yang membuatku jadi sedikit salah tingkah, namun juga terpancing untuk tersenyum. Kamu selalu tahu cara mencairkan suasana dengan gurauanmu. Ya, kamu pasti tahu, di balik senyumanku saat itu juga ada debar tak menentu. Harapan. Penantian. Penasaran.

Ah, kamu. Setelah sekian topik obrolan, sekian cangkir kopi dan teh yang kita nikmati bersama, baik yang kita pesan di kedai minum hiruk pikuk maupun yang kita seduh sendiri di salah satu dari sekian tempat menyepi, masihkah kamu ingat leluconmu dulu tentang es krim? ;)

 

Minuman Penutup, Konon

06 Nov 2008 | kertas tulis (24)


\

Menurut tradisi umum di Dunia Barat, kopi dihidangkan setelah santapan selesai. Paling akhir, setelah hidangan pencuci mulut. Terkecuali pada saat rihat kopi, atau acara minum kopi di pagi hari. Seorang kenalanku pernah memesan kopi di rumah makan sebuah negeri dingin sebelum makan, dan membikin orang sekitar terheran-heran. Menyalahi aturan atau tidak, bagi orang negeri tropis, mengatasi hawa dingin adalah perjuangan :P.

Buatku juga, minum kopi kapan pun bisa jadi nikmat, sehingga aku tidak terlalu terpaku dengan aturan mana pun. Seperti kali ini. Hidangan utama belum datang, kopi sudah kupesan dan dihidangkan. Yang beda adalah bungkus gulanya. Kemasan gula dari kedai kali ini tidak berbentuk persegi seperti umumnya gula kemasan, melainkan bulat memanjang seperti sedotan. Unik dan ciamik, serupa pernak-pernik.

Lebaran Hari Kedua

03 Oct 2008 | Paman Tyo (12)

Lebaran hari kedua. Sore itu banyak kedai penuh. Menurut beberapa pramusaji dua-tiga kedai, banyak tamu yang berlama-lama nongkrong. Bahkan ada meja dengan dua sofa untuk empat orang yang sejak berjam-jam lalu diduki satun orang. Malah ada meja yang akan saya duduki bersama keluarga langsung diserobot sebuah keluarga dengan memalangkan kereta bayi. Ternyata mereka hanya ingin ngobrol dengan keluarga di meja sebelah sambil beristirahat. Pramusaji tak berdaya. Alhirnya kami mendapatkan tempat di kedai tetangga.

Lebaran hari kedua, tenaga yang melayani berkurang. Banyak yang masih libur dan ambil cuti. Yang bertugas tampak kelelahan. Inilah saat untuk melatih kesabaran. Baki pramusaji bisa menyenggol bahu tamu. Minuman tumpah, mengotori baju. Hanya canggung bingung yang tampak dari wajah si pramusaji.

Lebih berat ujian kesabaran bagi mereka daripada tamu.