Setelah Menunda Lapar

13 May 2010 | kertas tulis (21)

Lapar. Itulah kunci menuju kenikmatan ketika bersantap. Selezat apa pun makanan, kalau kita melahapnya ketika kenyang, kenikmatan akan berkurang. Sebaliknya, makanan yang tadinya terkesan biasa justru akan terasa nikmat bila disantap dengan perut yang kelaparan.

Kenikmatan yang kadang tak terduga datang setelah sekian lama. Kali ini, aku berusaha tidak memikirkan atau mencari jawab tentang sesuatu yang sulit dijelaskan dan begitu impulsif. Di kepalaku muncul suara samar-samar, “Nikmati saja. Tak usah dipikirkan.”

Ruang Hening di Selatan Jakarta

29 Jul 2009 | kertas tulis (21)

Masihkah kamu ingat pertemuan lima bulan yang lalu di kamar ini? Kita bercengkerama sampai pagi, membicarakan banyak hal sembari mengikis penat dan rindu. Di selatan ibu kota yang sesak, ternyata masih ada pula sebuah sudut yang adem dan cukup tenang. Aku datang lebih dulu dan menyiapkan minuman, lalu kamu menyusul selepas acara di sebuah teater yang hanya sepelemparan batu dari sana. Cerita-ceritamu tidak pernah membosankan dan nyaris selalu membuat orang lain terpancing untuk bertanya dan bertanya. Jangan salahkan aku kalau ingin selalu menagih kisah baru di sebuah kamar, karena tempat pertemuan lain selalu dibatasi waktu dan kebisingan.

“Aku kangen ngobrol ngalor ngidul panjang lebar denganmu,” kataku.

“Suatu saat pasti kita ketemuan lagi, ngeteh, bertukar cerita,” jawabmu.

“Aku tidak begitu suka teh,” tukasku, “tapi tidak apa-apa. Boleh saja dalam sebuah pertemuan seseorang ngeteh dan yang lainnya ngopi.”

Kamu mengiyakan saja ucapanku.

Lelucon Es Krim

01 Jun 2009 | kertas tulis (21)

Duduk di antara para penikmat es krim, melayangkan lamunan dan membuat ingatanku terdampar pada kenangan manis tiga setengah tahun yang lalu. “Ya, dia suka es krim,” begitu ujarmu pada perempuan pramusaji yang menanyakan pesanan kita malam itu, di pertemuan kedua yang teramat sangat kunantikan. Ucapan singkat yang membuatku jadi sedikit salah tingkah, namun juga terpancing untuk tersenyum. Kamu selalu tahu cara mencairkan suasana dengan gurauanmu. Ya, kamu pasti tahu, di balik senyumanku saat itu juga ada debar tak menentu. Harapan. Penantian. Penasaran.

Ah, kamu. Setelah sekian topik obrolan, sekian cangkir kopi dan teh yang kita nikmati bersama, baik yang kita pesan di kedai minum hiruk pikuk maupun yang kita seduh sendiri di salah satu dari sekian tempat menyepi, masihkah kamu ingat leluconmu dulu tentang es krim? ;)