Lamunan Kopi yang Kurang Pekat
01 Dec 2010 | kertas tulis (24)
Dering telepon membangunkanku pagi itu. Pukul 09.50. Suara ramah petugas di ujung sana menanyakan apakah aku sudah sarapan. Kujawab bahwa aku tidak sarapan, untuk singkatnya. Ucapan terima kasih, lantas telepon kututup. Masih ada bungkus terakhir kopi instan, krim dan gula. Aku malas pesan sarapan di kamar, karena itu berarti aku harus berpakaian lengkap untuk menerima antaran.
Sambil menunggu air di ketel listrik mendidih, aku duduk memandangi puntung dan abu rokokmu di pisin. “Maaf, ya. Aku tidak minta kamar smoking, terus terang aku tidak yakin apa kamu akan datang malam ini,” ucapku semalam. Sebetulnya aku tidak yakin apa aku harus minta maaf, toh kamu dan aku sama-sama tidak tahu, kamu akan tidur di mana, menemaniku atau tidak. “Tidak apa-apa.” Seperti biasa kamu selalu sopan. “Tapi maaf, aku tidak bisa sampai pagi.” Seperti biasa aku merasa seolah jatuh berdebam di tanah setelah dilambungkan tinggi-tinggi, lalu berdiri, membersihkan debu dan luka di tubuh, untuk kembali berlalu seolah tidak ada apa-apa.
“Kamu menikmati kebebalanmu, karena itulah eksistensimu,” begitu katamu suatu hari lewat surel, setelah semua yang ingin kukatakan kutuliskan padamu. Kata-katamu jarang begitu menyakitkan, namun entah mengapa aku merasa plong setelah mendengar itu. Mungkin kamu benar, itulah keberadaanku, perempuan bebal yang menikmati rasa sakit yang kuciptakan sendiri. Sebab terus terang, rasa nikmat yang pernah kucicipi seumur-umur, tidak pernah terasa begitu nyata dan berbekas. Dalam rasa sakit, aku tahu aku hidup dan merasa sadar. Atau mungkin karena terbiasa sakit, justru aku tidak tahu yang nikmat itu seperti apa? Entahlah.
Kopi pagi ini kurang pekat, toh tetap juga kureguk. Samar-samar kuingat bisikan semalam darimu, “Kamu mencintaiku, tapi aku tidak bisa mencintaimu.” Tanpa banyak berkata-kata, kita menjelajahi tubuh satu sama lain sampai menjelang subuh.


