01 Jun 2009 |
kertas tulis (24)

Duduk di antara para penikmat es krim, melayangkan lamunan dan membuat ingatanku terdampar pada kenangan manis tiga setengah tahun yang lalu. “Ya, dia suka es krim,” begitu ujarmu pada perempuan pramusaji yang menanyakan pesanan kita malam itu, di pertemuan kedua yang teramat sangat kunantikan. Ucapan singkat yang membuatku jadi sedikit salah tingkah, namun juga terpancing untuk tersenyum. Kamu selalu tahu cara mencairkan suasana dengan gurauanmu. Ya, kamu pasti tahu, di balik senyumanku saat itu juga ada debar tak menentu. Harapan. Penantian. Penasaran.
Ah, kamu. Setelah sekian topik obrolan, sekian cangkir kopi dan teh yang kita nikmati bersama, baik yang kita pesan di kedai minum hiruk pikuk maupun yang kita seduh sendiri di salah satu dari sekian tempat menyepi, masihkah kamu ingat leluconmu dulu tentang es krim?
29 Jan 2009 |
kertas tulis (24)

Bermenit-menit kupandangi foto cangkir dan kemasan gula itu. Rasanya semua kenangan tengah memusuhiku, sehingga sulit untuk diungkapkan. Apa yang terjadi? Kurasa bukan sempitnya kamar itu yang telah mengungkung perasaanku, bukan pula pengap dan lembap yang samar menyapa indra penciumanku. Ah, aku ingat, buatmu itu sungguh mengganggu.
Malam itu, kamu melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh orang lain untukku. Sesuatu yang sebelumnya selalu kulakukan sendiri. Sebentuk perhatian intim yang manis dan menegangkan. Kupikir, tidak semua laki-laki pernah atau mau melakukan hal itu pada pasangannya.
“Di kamar tak disediakan sendok. Aku bingung bagaimana mengaduk minuman tanpa sendok,” kataku. Kamu menghibur tanpa mengeluh, “Pakai cara pramuka.” Kuikuti saranmu, sambil membayangkan kekonyolan anak remaja di sekolah dulu. Aku tersenyum membayangkan masa-masa itu. Tiba-tiba mataku basah, napasku terasa sesak. Baru setelah beberapa saat aku merasa tenang kembali. Mungkin aku yang berlebihan. Siapa yang tahu, di dunia ini ada jutaan orang pernah mengaduk minuman dengan gagang sikat gigi, untuk diberikan pada seseorang yang paling dia kasihi?
28 Dec 2008 |
kertas tulis (24)

Pintu tertutup, lampu menyala, ketel listrik memanaskan air secara otomatis, menyambut mereka yang terbebas dari kehidupan di luar sana. Di selatan Jakarta yang berhias riuh rendah kehidupan malam, kudapati diriku menunggumu di ruang dingin bernuansa masa lalu. Atau, jangan-jangan wajahku, yang kucari di sela-sela kehadiranmu? Sebab apa yang kata mereka nyata, bisa saja bukan apa-apa. Dan apa yang kata mereka sejati, ternyata hanya ilusi. Pejal dalam bayangan, namun bak udara dalam genggaman.
Biarkan mereka yang tersiksa pura-pura. Aku menunggumu untuk melihat wajahku.