Lipstik di Bibir Cangkir

19 Nov 2008 | kertas tulis (24)


\

Malam itu lobi hotel tampak sepi. Hanya ada beberapa orang di sana. Seorang pemuda bercelana pendek yang asyik berselancar di dunia maya dengan laptopnya. Seorang pria kulit putih, entah dari negara mana, sibuk mondar-mandir dari kursi bar ke lounge, minta saluran TV diganti-ganti. Seorang pramutama bar perempuan yang cantik dan bersikap sangat lembut. Seorang pramuhotel yang sibuk melayani pertanyaan si pria kulit putih yang bertubi-tubi. Rupanya mereka pernah main kartu bersama malam sebelumnya.

Ketika kamu datang, aku belum sempat menyeruput kapucino yang mulai menghangat. Lalu kita mencoba koneksi internet dengan laptopku, namun gagal berkali-kali. “Laptop yang bingung, persis seperti orangnya yang suka bingung,” katamu. Malam itu Jakarta diguyur hujan, tapi candamu membuatku tak kedinginan. Di lobi hotel itu, setiap orang meneruskan kegiatannya masing-masing. Semakin lama, suara si pria kulit putih bercampur suara TV semakin semarak menghiasi ruangan dan membuat suasana jadi tidak tenang.

Laptop kumatikan di pengujung kencan, namun genggaman tanganmu menandakan malam masih panjang. Mengiakan ajakanmu untuk berpindah tempat, kuhabiskan kapucino yang telah mendingin. Ah, masih ada bekas lipstik di bibir cangkir yang tak sempat kuhapus karena tergesa. Kamu tersenyum, “Lebih baik di bibir cangkir daripada di kerah kemeja.”

 

Menjerang Lamunan

30 Oct 2008 | kertas tulis (24)

Isi cangkir kopiku sudah hampir habis, tetapi dia belum datang juga. Sesekali kutepuk dengan hati-hati kulit di daerah pipi, dahi dan hidungku dengan kertas tisu, untuk menyeka lembap. Aneh, di kamar hotel yang dingin dan kering ini, wajahku lembap. Mungkin karena gugup. Dua setengah tahun setelah kencan pertama, perasaan gugup itu masih ada.

Mengapa akhirnya kami memilih hotel ini? “Hotel ini dekat dengan kantormu, juga kantorku,” katanya. Akan tetapi, ini hotel tua. Di salah satu sudut hotel, entah udara atau air dari saluran yang berusia belasan tahun menimbulkan bunyi bising yang bergema dari kamar atas hingga ke kamar di bawahnya. Lalu gema di bagian lantai tertentu menimbulkan suara mirip ketukan di pintu. Seperti di film horor. Saat aku mengeluhkan hal ini lewat SMS, dia hanya menjawab, “Tenang. Ada Mas.” Tapi, dia tidak ada di sana ketika bebunyian itu ada.

Sejam berlalu, memasuki jam kedua. Perasaanku semakin tak menentu. Kuambil botol body spray di kamar mandi, kusemprotkan ke seluruh tubuhku sekali lagi. The Body Shop, Velique. Ini wangi kesukaannya, satu hal yang membuatku senang karena ini pun wangi kesukaanku. Setiba di kamar tadi, aku langsung mandi dan berdandan. Kami jarang sekali bisa bertemu, kalaupun bisa hanya beberapa jam. Namun, aku ingin selalu terlihat cantik di hadapannya. Oh, ada cermin satu badan di sisi kiri pintu kamar mandi. Aku mematut diri, merapikan lagi rias wajahku.

“Masih mampukah aku membuatmu bergairah?” tanyaku suatu ketika setelah badai yang kami ciptakan mereda. Dia diam saja. Diteguknya teh yang mulai hangat, lalu tubuhnya digeliatkan. Setengah baya, matang, memancing keingintahuan para wanita tak berpengalaman. Beberapa menit kemudian dia tertidur, mendahuluiku yang asyik terkagum memandangi wajahnya dan matanya yang terpejam. Diiringi dengkurannya yang lembut, aku terus menatapnya, seakan-akan itulah kali terakhir pertemuan kami. Kupeluk erat-erat punggungnya saat dia perlahan-lahan berbalik membelakangiku. Malam itu aku merasa sangat aman.

Suara air mendidih membuyarkan lamunan. Kujelang seduhan kopi kedua menjelang tengah malam.

gula atau pemanis?

20 Oct 2008 | kertas tulis (24)


Pilih mana, gula atau pemanis? Terlalu banyak mengonsumsi gula tentu tidak baik. Banyak orang kecanduan gula, dan hanya berhenti ketika sudah benar-benar sakit. Dengan serbuk pemanis, kita tidak akan mendapatkan rasa manis sejati gula. Manisnya sih manis, tapi tidak membuatmu ingin lagi dan lagi. Konon, segala sesuatu yang buatan hanya akan memberikan kesenangan di permukaan. Bagaimanapun, kamu mengaku bukan penggemar gula, bahkan minum teh sering nyaris tawar saja. Aku sudah hafal, dan menyeduhkan teh buatmu kuanggap ritual ;)