Menjerang Lamunan
30 Oct 2008 | kertas tulis (21)Isi cangkir kopiku sudah hampir habis, tetapi dia belum datang juga. Sesekali kutepuk dengan hati-hati kulit di daerah pipi, dahi dan hidungku dengan kertas tisu, untuk menyeka lembap. Aneh, di kamar hotel yang dingin dan kering ini, wajahku lembap. Mungkin karena gugup. Dua setengah tahun setelah kencan pertama, perasaan gugup itu masih ada.
Mengapa akhirnya kami memilih hotel ini? “Hotel ini dekat dengan kantormu, juga kantorku,” katanya. Akan tetapi, ini hotel tua. Di salah satu sudut hotel, entah udara atau air dari saluran yang berusia belasan tahun menimbulkan bunyi bising yang bergema dari kamar atas hingga ke kamar di bawahnya. Lalu gema di bagian lantai tertentu menimbulkan suara mirip ketukan di pintu. Seperti di film horor. Saat aku mengeluhkan hal ini lewat SMS, dia hanya menjawab, “Tenang. Ada Mas.” Tapi, dia tidak ada di sana ketika bebunyian itu ada.
Sejam berlalu, memasuki jam kedua. Perasaanku semakin tak menentu. Kuambil botol body spray di kamar mandi, kusemprotkan ke seluruh tubuhku sekali lagi. The Body Shop, Velique. Ini wangi kesukaannya, satu hal yang membuatku senang karena ini pun wangi kesukaanku. Setiba di kamar tadi, aku langsung mandi dan berdandan. Kami jarang sekali bisa bertemu, kalaupun bisa hanya beberapa jam. Namun, aku ingin selalu terlihat cantik di hadapannya. Oh, ada cermin satu badan di sisi kiri pintu kamar mandi. Aku mematut diri, merapikan lagi rias wajahku.
“Masih mampukah aku membuatmu bergairah?” tanyaku suatu ketika setelah badai yang kami ciptakan mereda. Dia diam saja. Diteguknya teh yang mulai hangat, lalu tubuhnya digeliatkan. Setengah baya, matang, memancing keingintahuan para wanita tak berpengalaman. Beberapa menit kemudian dia tertidur, mendahuluiku yang asyik terkagum memandangi wajahnya dan matanya yang terpejam. Diiringi dengkurannya yang lembut, aku terus menatapnya, seakan-akan itulah kali terakhir pertemuan kami. Kupeluk erat-erat punggungnya saat dia perlahan-lahan berbalik membelakangiku. Malam itu aku merasa sangat aman.
Suara air mendidih membuyarkan lamunan. Kujelang seduhan kopi kedua menjelang tengah malam.



