Melihat Wajahku

28 Dec 2008 | kertas tulis (17)

Pintu tertutup, lampu menyala, ketel listrik memanaskan air secara otomatis, menyambut mereka yang terbebas dari kehidupan di luar sana. Di selatan Jakarta yang berhias riuh rendah kehidupan malam, kudapati diriku menunggumu di ruang dingin bernuansa masa lalu. Atau, jangan-jangan wajahku, yang kucari di sela-sela kehadiranmu? Sebab apa yang kata mereka nyata, bisa saja bukan apa-apa. Dan apa yang kata mereka sejati, ternyata hanya ilusi. Pejal dalam bayangan, namun bak udara dalam genggaman.

Biarkan mereka yang tersiksa pura-pura. Aku menunggumu untuk melihat wajahku.

Hangat, Manis, Cokelat

28 Oct 2008 | kertas tulis (17)

Sebelum meninggalkan kamar pagi itu, aku sempat minum kopi instan dengan bubuk krim dan gula palem. Di kemasannya tertulis brown sugar. Arti harfiahnya, “gula cokelat”. Aku nyaris tidak pernah minum kopi dengan gula palem. Biasanya gula pasir atau tanpa gula. Namun untuk petualangan rasa, bolehlah sesekali aku coba. Kuhirup kopi yang mulai menghangat, rasa legit menyapa dari gula cokelat. Kerinduan menghadirkan dirinya lamat-lamat. Sedang apakah kau sekarang, lelaki berkulit cokelat dengan senyuman nan hangat?

Penantian. Apa Boleh Buat…

09 Sep 2008 | Paman Tyo (12)

Tak sopan datang terlambat. Tapi lalu lintas Ibu Kota kadang sulit ditebak. Maka daripada terlambat lebih baik datang lebih awal. Jauh lebih awal. Selebihnya adalah pemanfaatan waktu. Untunglah beberapa gedung perkantoran punya kedai. Misalnya salah satu menara di Mega Kuningan Jakarta. Bukan baca, bukan online, waktu dimanfaatkan untuk menikmati rasa terkantuk-kantuk. Menjemukan. Apa boleh buat. Demi tetesan rezeki dari orang yang akan saya temui.

daily bread @ mega kuningan jakarta