Seminar @ Ritz Carlton

17 Aug 2008 | Dul Gepuk (4)

Pagi dengan jalan memutar untuk hindari three-in-one. Akhirnya saya sampai juga. Datang. Bersalaman dengan the big boss yang punya gawe. Lalu ngopi. Ambil cemilan. Kemudian masuk ke ruang seminar. Di dalam banyak orang nge-plurk melalui ponsel masing-masing. Tapi saya tidak. Lalu saya keluar. Ngeteh. Masuk lagi. Jenuh. Saya mencari ruang merokok.  Di lantai yang sama — lantai 4 Pacific Place — ada ruang merokok. Menyatu dengan Fish & Chip. Karena tak enak hati cuma merokok, maka saya dan kenalan baru memesan minuman. Kami keasyikan berdiskusi di sana. Kembali ke tempat seminar sudah jam makan siang. Antrean panjang. Saya cukup mengambil salad dan minum jus jeruk. Lalu pulang. Kurang begitu yang mengesankan dari acara hari itu.

Pernah menjadi simbol kemewahan

14 Jul 2008 | Drustajumna Legawa (4)

gula pesawat garuda indonesia

Naik pesawat sudah hal biasa bagi kebanyakan orang. Dulu di zaman para orang tua yang sudah lama almarhum, kadangtidak hanya sendok teh yang dibawa pulang, bahkan gula dalam kantong pun dibawa untuk kenang-kenangan bahkan oleh-oleh. Dulu cara yang terjangkau padahal mahal untuk pergi jauh adalah naik kapal, misalnya pergi haji ke tanah suci.

Lobbyist, calo, petualang

11 Jul 2008 | Drustajumna Legawa (4)

tomodachi cafe jakarta

Beberapa kali kau memintaku bertemu. Ada bisnis bagus katamu. “Tampaknya kita bisa bekerja sama, Mas,” itu jurus andalanmu. Ada lagi kiatmu, “Di saat krismon dulu, yang ada duit itu pemerintah. Swasta tiarap semua. Maka kalau mau bisnis, dengan pemerintah saja. Soal duit dipotong, itu adalah cost.”

Lalu terdamparlah aku di cafe itu. Belasan tahun tak bersua aku kaget dan pangling melihatmu. Kau lebih muda dariku tapi tampak cepat menua, banyak beban — mungkin juga banyak nafsu kemaruk. Aku lebih banyak mendengar. Jangan terlalu idealis, katamu. Kubilang aku bukan idealis tapi aku menuruti hati (padahal uang menipis).

Kau keluarkan dua keping DVD talk show di TV (”Itu aku yang atur, buat jatuhkan si Anu. Dia digeser dari luar dan dari dalam. Aku bantu dari dalam. Pakai saja anak buahnya”). Aku makin tak tertarik permainan begituan. Mau dirut BMUN atau ketua KUD, atau juragan onderdil mocin, aku tak berkepentingan dengan naik atau jatuhnya mereka.