<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="WordPress/2.5.1" -->
<rss version="0.92">
<channel>
	<title>kantongrasa.com</title>
	<link>http://kantongrasa.com</link>
	<description>kemasan gula (dan garam, merica, lainnya)</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Jun 2010 05:03:09 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	
	<item>
		<title>Kopi Pagi, Lelaki Pagi</title>
		<description>

Apa ya, yang dicari orang ketika meneguk secangkir kopi? Aromanya yang wangi dan lembut membelai indra penciuman sejak ketika kita menyeduhnya? Rasa pekat bernuansa asam yang memanjakan ujung lidah hingga pangkal kerongkongan? Atau, kandungan kafeina yang menyegarkan dan konon membikin kita ketagihan?

Nikmat, sungguh nikmat. Bukan hanya karena pagi itu aku ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2010/06/11/kopi-pagi-lelaki-pagi/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Obrolan yang Terselip</title>
		<description>

+ Kamu nggak menulis pengalaman dan fantasimu buat situs erotis itu? Kan bahasa Inggris-mu bagus...

- Ah Mas.. I'm not that good actually.. Lagian slank-nya gak paham

+ Lagian buang waktu kan, ya? Tujuannya cari bahan buat fantasi kok malah nulis. Kecuali dibayar kali ya, sebagai penulis?

- Bukan, aku kurang imajinatif. Kalau ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2010/05/28/obrola-yang-terselip/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Setelah Menunda Lapar</title>
		<description>

Lapar. Itulah kunci menuju kenikmatan ketika bersantap. Selezat apa pun makanan, kalau kita melahapnya ketika kenyang, kenikmatan akan berkurang. Sebaliknya, makanan yang tadinya terkesan biasa justru akan terasa nikmat bila disantap dengan perut yang kelaparan.
Kenikmatan yang kadang tak terduga datang setelah sekian lama. Kali ini, aku berusaha tidak memikirkan atau ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2010/05/13/setelah-menunda-lapar/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Lamunan Es Krim</title>
		<description>
Pada sepenggal Jumat sore yang muram dan dingin. Andai kamu bisa datang dengan kulit kecokelatanmu, langkah tergesamu, senyum lebarmu dan kecupan hangat di pipiku. </description>
		<link>http://kantongrasa.com/2010/03/26/lamunan-es-krim/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Dari Sebuah Serambi</title>
		<description>

Kalau kelak kau berkunjung lagi ke kotaku, Lelaki berkulit cokelat, akan kuajak kau menikmati kopi Gayo atau Javanica di kedai yang terletak di sebuah serambi pertokoan. Lalu menikmati lalu lalang manusia di pelataran dari balik jendela kedai. Sudah tiga dasawarsa lebih aku tinggal di kota ini, namun setiap kali aku ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/11/13/dai-sebuah-serambi/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Antara Tubruk dan French Press</title>
		<description>

Semenjak kebiasaan minum kopi berkembang menjadi sebuah bagian dari gaya hidup, kudapati keasyikan lain berupa pengamatan terhadap berbagai penyajian minuman wangi ini. Mulai dari yang harus mengantre sendiri minuman kopi dingin dalam gelas kertas (ehem!), sampai yang disediakan French press sendiri untuk pembeli. Buatku, minum kopi dengan French press lebih ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/11/13/antara-kopi-tubruk-dan-french-pres/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Teh Aneka Rasa</title>
		<description>
Kemasan teh berwarna-warni meriah ini memikat perhatianku. Sekarang sejumlah merek teh mulai bersaing menampilkan teh rasa aneka buah segar, antara lain teh Sari Wangi dan Tong Tji.  Sampai beberapa waktu lalu, pilihan rasa teh selain rasa asli (juga teh hitam dan teh hijau) hanyalah teh melati. Sejumlah teh juga ada ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/10/03/teh-aneka-rasa/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Teh Tawar Salihara</title>
		<description>Kadang saya menikmatin teh melati Jawa tanpa gula. Kalau pun pakai ya sedikit saja. Akibatnya gula yang disertakan pun tak terpakai. Yang jelas, di Kedai Salihara, Jakarta Selatan, kantong gulanya belum berdesain khusus. Mungkin kelak dirancang khusus, menyertai cemilan yang dikemas khusus -- yang saya gemari adalah gadung. Yang terpotret ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/08/16/teh-tawar-salihara/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Solo, pada Suatu Sore</title>
		<description>

Perjalanan melelahkan dari Ponorogo. Kebetulan sejak sebelum berangkat saya sudah memutuskan untuk istirahat barang selama di Solo, daripada terburu-buru mengejar pesawat terakhir dari Ponorogo. Maka tibalah saya di hotel itu, langsung go show. Untung ada kamar, harga diskon pula. Begitu selesai check in, tapi belum masuk kamar, saya duduk di ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/08/10/solo-pada-suatu-sore/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Bengawan Solo</title>
		<description>Bengawan Solo akhirnya identik dengan lagu ciptaan Gesang, terutama bagi orang Jepang. Di salah cabangnya, di Bandara Soekarno-Hatta, saya melewatkan sore sambil menunggu anak pulang dari Bangkok. Sebuah kedai yang mungil, dengan dapur yang sangat kompak, wajan penggoreng hanya satu setengaj jengkal kali sejengkal, pramusajinya hanya satu,  karena dia tak ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/08/06/bengawan-solo/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Keisengan</title>
		<description>Kebetulan saya dan keluarga mendapatkan meja yang merapat ke dinding.  Makanan belum datang, keisengan saya sudah muncul. Wadah kantong gula saya pindahkan ke atas permukaan tonjolan dinding. Permukaan itu mendapatkan cahaya dari bawah sebagai cara untuk menonjolkan dekorasi ruangan. Dan inilah hasilnya. Sudut pengambilan yang lain pernah saya muat di ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/08/06/keisengan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Merapat, Rapat</title>
		<description>Pagi tiba di Yogya. Jemputan sudah siap. Langsung merapat ke Hotel Santika. Untuk rapat dengan sebuah tim. Di kafe itu, pada suatu malam, saya pernah diajak melewatkan oleh kakak saya, untuk kemudian pindah ke kota lain. Seperti biasa di sana dia pun menyanyi oldies dan light jazz yang evergreen. Orang-orang ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/08/06/merapat-rapat/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Pagi di Bandara</title>
		<description>Penerbangan pagi berarti bangun sangat pagi, mandi lebih dini, akan menyiksa jika malam sebelumnya kurang tidur. Ketergesaan membuat metabolisme tak lancar, perut tak enak, tapi jika langsung menenggak kopi (yang asamnya tinggi pula) akan mulas. Teh adalah teman pagi yang enak. Tidak bikin mulas. Kenapa tak berangkat siang? Akan lebih ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/08/06/pagi-di-bandara/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Waroeng Nostalgia</title>
		<description>


Belakangan ini kian banyak "warung modern" di ibu kota yang menyediakan minuman tradisional semacam wedang angsle atau wedang ronde. Seperti yang kukunjungi beberapa waktu lalu. Terik panas di luar tidak meredam keinginan untuk menyeruput wedang angsle, karena bagian dalam gedung perkantoran cenderung bersuhu seperti di pegunungan. Anomali.

Ketika memasuki sebuah warung ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/07/30/waroeng-nostalgia/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Ruang Hening di Selatan Jakarta</title>
		<description>
Masihkah kamu ingat pertemuan lima bulan yang lalu di kamar ini? Kita bercengkerama sampai pagi, membicarakan banyak hal sembari mengikis penat dan rindu. Di selatan ibu kota yang sesak, ternyata masih ada pula sebuah sudut yang adem dan cukup tenang. Aku datang lebih dulu dan menyiapkan minuman, lalu kamu menyusul selepas ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/07/29/ruang-hening-di-selatan-jakarta/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Tumpahan Kopi di Sisi Cangkir</title>
		<description>


Sekilas kudengar pramusaji itu mengucapkan maaf, tetapi aku tidak bisa mendengar apa persisnya yang dia katakan. Suara musik dan obrolan para tamu di meja lain membuat ucapannya kurang jelas. Lalu kulihat tumpahan kopi itu di atas piring tatakan. Mungkin itulah yang membuat si pramusaji minta maaf. Mungkin ketergesaan membuatnya menumpahkan ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/07/24/tumpahan-kopi-di-sisi-cangkir/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Lelucon Es Krim</title>
		<description>

Duduk di antara para penikmat es krim, melayangkan lamunan dan membuat ingatanku terdampar pada kenangan manis tiga setengah tahun yang lalu. "Ya, dia suka es krim," begitu ujarmu pada perempuan pramusaji yang menanyakan pesanan kita malam itu, di pertemuan kedua yang teramat sangat kunantikan. Ucapan singkat yang membuatku jadi sedikit ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/06/01/lelucon-es-krim/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Amaris</title>
		<description>
Bermenit-menit kupandangi foto cangkir dan kemasan gula itu. Rasanya semua kenangan tengah memusuhiku, sehingga sulit untuk diungkapkan. Apa yang terjadi? Kurasa bukan sempitnya kamar itu yang telah mengungkung perasaanku, bukan pula pengap dan lembap yang samar menyapa indra penciumanku. Ah, aku ingat, buatmu itu sungguh mengganggu.

Malam itu, kamu melakukan sesuatu ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2009/01/29/amaris/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Melihat Wajahku</title>
		<description>

Pintu tertutup, lampu menyala, ketel listrik memanaskan air secara otomatis, menyambut mereka yang terbebas dari kehidupan di luar sana. Di selatan Jakarta yang berhias riuh rendah kehidupan malam, kudapati diriku menunggumu di ruang dingin bernuansa masa lalu. Atau, jangan-jangan wajahku, yang kucari di sela-sela kehadiranmu? Sebab apa yang kata mereka ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/12/28/melihat-wajahku/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Lipstik di Bibir Cangkir</title>
		<description>


Malam itu lobi hotel tampak sepi. Hanya ada beberapa orang di sana. Seorang pemuda bercelana pendek yang asyik berselancar di dunia maya dengan laptopnya. Seorang pria kulit putih, entah dari negara mana, sibuk mondar-mandir dari kursi bar ke lounge, minta saluran TV diganti-ganti. Seorang pramutama bar perempuan yang cantik dan ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/11/19/lipstik-di-bibir-cangkir/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Menakar Ketidakpantasan</title>
		<description> 



Di kamar hotel di bilangan Kemang, Jakarta Selatan ini, gula, kopi dan teh tersedia masing-masing lebih dari dua sachet. Cocok untuk mereka yang check in beramai-ramai. Salah seorang kenalan lama pernah mengeluhkan kebiasaan wanitanya untuk bermalam di kamar hotel ketika pekerjaan di kantor menumpuk. Menurutnya, itu sama sekali tidak pantas. ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/11/14/menakar-ketidakpantasan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Secangkir Kopi, Sofa dan Pemandangan di Luar Sana</title>
		<description>

Di kota semacam Jakarta, kesendirian dan kesunyian adalah sebuah kemewahan. Anehnya, dalam keramaian orang sering kali merasa kesepian. Kadang aku pun merasa demikian. Itu sebabnya, aku tidak terlalu suka berada di tempat ramai. Setelah naik turun eskalator di sebuah pusat perbelanjaan yang penuh sesak akibat pesta potongan harga, aku berniat ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/11/07/secangkir-kopi-sofa-dan-pemandangan-di-luar-sana/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Minuman Penutup, Konon</title>
		<description>


Menurut tradisi umum di Dunia Barat, kopi dihidangkan setelah santapan selesai. Paling akhir, setelah hidangan pencuci mulut. Terkecuali pada saat rihat kopi, atau acara minum kopi di pagi hari. Seorang kenalanku pernah memesan kopi di rumah makan sebuah negeri dingin sebelum makan, dan membikin orang sekitar terheran-heran. Menyalahi aturan atau tidak, ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/11/06/minuman-penutup-konon/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Menjerang Lamunan</title>
		<description>

Isi cangkir kopiku sudah hampir habis, tetapi dia belum datang juga. Sesekali kutepuk dengan hati-hati kulit di daerah pipi, dahi dan hidungku dengan kertas tisu, untuk menyeka lembap. Aneh, di kamar hotel yang dingin dan kering ini, wajahku lembap. Mungkin karena gugup. Dua setengah tahun setelah kencan pertama, perasaan gugup ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/10/30/menjerang-lamunan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Hangat, Manis, Cokelat</title>
		<description>


Sebelum meninggalkan kamar pagi itu, aku sempat minum kopi instan dengan bubuk krim dan gula palem. Di kemasannya tertulis brown sugar. Arti harfiahnya, "gula cokelat". Aku nyaris tidak pernah minum kopi dengan gula palem. Biasanya gula pasir atau tanpa gula. Namun untuk petualangan rasa, bolehlah sesekali aku coba. Kuhirup kopi ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/10/28/hangat-manis-cokelat/</link>
			</item>
	<item>
		<title>gula atau pemanis?</title>
		<description>


Pilih mana, gula atau pemanis? Terlalu banyak mengonsumsi gula tentu tidak baik. Banyak orang kecanduan gula, dan hanya berhenti ketika sudah benar-benar sakit. Dengan serbuk pemanis, kita tidak akan mendapatkan rasa manis sejati gula. Manisnya sih manis, tapi tidak membuatmu ingin lagi dan lagi. Konon, segala sesuatu yang buatan hanya ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/10/20/gula-atau-pemanis/</link>
			</item>
	<item>
		<title>tidak semua bisa diingat, kecuali..</title>
		<description> 

Kemasan gula ini sepertinya sudah lama sekali terselip di laci meja kerjaku. Tidak ada nama atau merek yang bisa membantuku mengingat-ingat. Entah berasal dari resto atau kafe mana, atau hotel apa, aku lupa. Akan tetapi, aku tidak pernah lupa malam pertemuan pertama kita, sekitar tiga tahun yang lalu. Hari-hari sebelumnya ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/10/13/tidak-semua-bisa-diingat-kecuali/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Lebaran Hari Kedua</title>
		<description>Lebaran hari kedua. Sore itu banyak kedai penuh. Menurut beberapa pramusaji dua-tiga kedai, banyak tamu yang berlama-lama nongkrong. Bahkan ada meja dengan dua sofa untuk empat orang yang sejak berjam-jam lalu diduki satun orang. Malah ada meja yang akan saya duduki bersama keluarga langsung diserobot sebuah keluarga dengan memalangkan kereta ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/10/03/lebaran-hari-kedua/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Generik, Apa Adanya</title>
		<description>

Senin malam 29 September. Antrean di kasir pasar swalayan memanjang. Saya, yang belanja sendiri, pun lelah. Setelah keluar dari kasir balanjaan saya titipkan. Ternyta tempat penitipan juga penuh. Akhirnya toh bisa juga. Lalu saya ke kedai di seberang. Kapucino lama datangnya. Setelah ada, rasanya aneh, mana encer pula. Gula tanpa ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/10/01/generik-apa-adanya/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Pagi Saat Kota Sepi</title>
		<description>

Sabtu 27 September. Bukan hari kerja. Suasana libur jelang Lebaran kian terasa. Jakarta menyepi. Apalagi pagi sekitar setengah tujuh. Perut lapar menuntut ganjal. Misalkan sudah siang, mendapatkan warung buka pun sulit. Akhirnya bersua kedai donat 24 jam. Si kecil tak kelaparan. Pagi itu lama-lama kedainya ramai. Banyak orang sarapan. Sebagian ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/10/01/pagi-saat-kota-sepi/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Penantian. Apa Boleh Buat&#8230;</title>
		<description>Tak sopan datang terlambat. Tapi lalu lintas Ibu Kota kadang sulit ditebak. Maka daripada terlambat lebih baik datang lebih awal. Jauh lebih awal. Selebihnya adalah pemanfaatan waktu. Untunglah beberapa gedung perkantoran punya kedai. Misalnya salah satu menara di Mega Kuningan Jakarta. Bukan baca, bukan online, waktu dimanfaatkan untuk menikmati rasa ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/09/09/penantian-apa-boleh-buat/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Kopdar untuk Bisnis</title>
		<description>Untuk kedua kalinya saya bersua dengannya, setelah sebelumnya hanya berkabar via e-mail dan SMS. Dia blogger, saya juga. Jumpa pertama sepekan sebelumnya, dalam sebuah acara yang lagi-lagi diselenggarakan oleh dotcomers yang sebagian besar bloggers. Serampung acara dia singgah ke markas saya, kemudian dia dan tamu satunya (yang juga baru ketemu ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/09/09/kopdar-untuk-bisnis/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Dari Slametan Cerpenista</title>
		<description>

Saya dan rombongan menginap di Wisma Djoglo, Yogya, untuk acara peluncuran Cerpenista. Tiba sudah petang, begitu masuk kamar langsung disodori kopi hangat (bukan panas). Saya pikir lumayan juga layanan tempat lama di timur kota ini. Ternyata setelahnya pesanan demi pesanan minuman selalu lama selesainya. Teh dan kopi paling cepat 20 ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/08/19/dari-slametan-cerpenista/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Seminar @ Ritz Carlton</title>
		<description>

Pagi dengan jalan memutar untuk hindari three-in-one. Akhirnya saya sampai juga. Datang. Bersalaman dengan the big boss yang punya gawe. Lalu ngopi. Ambil cemilan. Kemudian masuk ke ruang seminar. Di dalam banyak orang nge-plurk melalui ponsel masing-masing. Tapi saya tidak. Lalu saya keluar. Ngeteh. Masuk lagi. Jenuh. Saya mencari ruang ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/08/17/seminar-ritz-carlton/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Bukan Ceramah maupun Debat</title>
		<description>Suatu sore yang panas. Oakwood. Mega Kuningan. Jakarta. Saya bertemu seorang lawyer yang juga blogger. Tak ada ceramah -- karena dia bukan penceramah. Tiada debat -- karena saya tak paham hukum. Hanya obrolan tentang blog dan blog. Sesekali ada canda. Selebihnya adalah melakukan sesuatu, yang bermanfaat untuk bloggers. :)

 </description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/08/13/bukan-ceramah-maupun-debat/</link>
			</item>
	<item>
		<title>It&#8217;s a Mag yang Disobek</title>
		<description>

It's A Cafe di Senayan City Jakarta. Dengan logotype A yang gothic. Bagian dari bisnis The House of Sampoerna, melengkapi jaringan clothing distro It's A Store di pelbagai kota. Di sana gula terkemas biasa, apa adanya dari pemasok. Di sana orang leluasa berkepul asap tembakau. Di sana orang dapat mencapainya ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/07/30/majalah-yang-disobek/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Ritual Maria Eva</title>
		<description>Tak tahulah kenapa kafe di Jalan Ahmad dahlan Jakarta itu memakai nama Ritual. Mungkin ngopi dan ngeteh memang ritual harian. Bukan soal hidup dan mati tetapi harus dilakoni. Kebiasaan memang bisa melekat menjadi kebutuhan tubuh, sadar maupun tak sadar. 



Lantas suatu sore saya dan sejawat ke sana. Bukan karena kebiasaan. Bukan ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/07/30/ritual-maria-eva/</link>
			</item>
	<item>
		<title>jelang terbang</title>
		<description>

tiga jam lagi -- "aku keburu," katamu
masih ada waktu, kataku
bukankah kau pilih tempat dekat bandara agar tiada gegas berlebih?
tiga jam lagi -- "harus check in dulu sejam sebelumnya kan?"
masih ada waktu untuk lemon tea panas seduhan sendiri, kataku
tiga jam lagi -- "sekali-sekali temanilah aku sampai ke kotaku, mas..."
tidak, oh tidak
aku ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/07/25/jelang-terbang/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Tanpa Nama</title>
		<description>

Di pojok itu. Diapit dinding kayu gelap. Dengan ambalan yang juga gelap. LED merah dalam ceruk rak mengesankan sesuatu yang oriental. Sering di sana aku. Sendirian. Meski ada wi-fi gratis aku lebih suka melamun, mencorat-coret, atau membaca. Kantong gula tanpa cafe menjadi pembatas buku. Hanya aku yang tahu itu di ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/07/21/tanpa-nama/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Pernah menjadi simbol kemewahan</title>
		<description>

Naik pesawat sudah hal biasa bagi kebanyakan orang. Dulu di zaman para orang tua yang sudah lama almarhum, kadangtidak hanya sendok teh yang dibawa pulang, bahkan gula dalam kantong pun dibawa untuk kenang-kenangan bahkan oleh-oleh. Dulu cara yang terjangkau padahal mahal untuk pergi jauh adalah naik kapal, misalnya pergi haji ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/07/14/pernah-menjadi-simbol-kemewahan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>muak jakarta, rindu jakarta, benci cinta</title>
		<description>di sini kau merasa tenang, "jauh dari jakarta. terpencil, tanpa kemacetan. handphone kumatikan." sesekali kau ajak becanda barista dan bartender. selebihnya adalah kolam renang dan baring, "kagak pake berjemur lah, entar jadi item, kita kan bukan bule." lima buku kau bawa. "macbook air aku bawa tapi aku anggurin di kamar. ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/07/12/muak-jakarta-rindu-jakarta-benci-cinta/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Lobbyist, calo, petualang</title>
		<description>

Beberapa kali kau memintaku bertemu. Ada bisnis bagus katamu. "Tampaknya kita bisa bekerja sama, Mas," itu jurus andalanmu. Ada lagi kiatmu, "Di saat krismon dulu, yang ada duit itu pemerintah. Swasta tiarap semua. Maka kalau mau bisnis, dengan pemerintah saja. Soal duit dipotong, itu adalah cost."

Lalu terdamparlah aku di cafe ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/07/11/lobbyist-calo-petualang/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Gula yang mana, tanyamu ;)</title>
		<description>

Laura Figy maumu. Oh, tidak. Aku memilihkan Diana Krall untukmu. Website dia juga ungu kan? Seperti kantong-kantong ini. The Girl in Another Room. Kau tersenyum. Meledek atau merayu, tanyamu. Terlalu sering kita bercanda. Yang serius dibalut gurauan. Juga tentang ini: kenapa aku di ruangmu -- seperti juga tiga bulan silam.





Raung ...</description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/07/11/gula-yang-mana-tanyamu/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Sebuah undangan</title>
		<description>Menulislah di sini. Tentang kantong rasa. Untuk berbagi rasa melalui cerita. Kalau belum sempat kumpulkan atau memotret kantong gula dan sejenisnya, lakukanlah mulai hari ini. Lantas esok hari tulislah di sini, di blog kantongrasa.com ini. </description>
		<link>http://kantongrasa.com/2008/07/07/sebuah-undangan/</link>
			</item>
</channel>
</rss>
