06 Aug 2009 |
Paman Tyo (12)
Bengawan Solo akhirnya identik dengan lagu ciptaan Gesang, terutama bagi orang Jepang. Di salah cabangnya, di Bandara Soekarno-Hatta, saya melewatkan sore sambil menunggu anak pulang dari Bangkok. Sebuah kedai yang mungil, dengan dapur yang sangat kompak, wajan penggoreng hanya satu setengaj jengkal kali sejengkal, pramusajinya hanya satu, karena dia tak perlu mencuci gelas — tapi masih mencuci piring entah di mana. Semua minuman disajikan dalam cangkir plastik. Meskipun ini warung kopi, saya memesan teh.

06 Aug 2009 |
Paman Tyo (12)
Kebetulan saya dan keluarga mendapatkan meja yang merapat ke dinding. Makanan belum datang, keisengan saya sudah muncul. Wadah kantong gula saya pindahkan ke atas permukaan tonjolan dinding. Permukaan itu mendapatkan cahaya dari bawah sebagai cara untuk menonjolkan dekorasi ruangan. Dan inilah hasilnya. Sudut pengambilan yang lain pernah saya muat di Oh!.
06 Aug 2009 |
Paman Tyo (12)
Pagi tiba di Yogya. Jemputan sudah siap. Langsung merapat ke Hotel Santika. Untuk rapat dengan sebuah tim. Di kafe itu, pada suatu malam, saya pernah diajak melewatkan oleh kakak saya, untuk kemudian pindah ke kota lain. Seperti biasa di sana dia pun menyanyi oldies dan light jazz yang evergreen. Orang-orang kafe dan homeband sudah hapal dia dan selalu mempersilakannya untuk menyanyi. Kakak saya sudah tiada, meninggal pas Natal tahun lalu. Tanggal 4 Agustus kemarin, kalau dia masih hidup, genap 53 tahun.
