06 Aug 2009 |
Paman Tyo (12)
Penerbangan pagi berarti bangun sangat pagi, mandi lebih dini, akan menyiksa jika malam sebelumnya kurang tidur. Ketergesaan membuat metabolisme tak lancar, perut tak enak, tapi jika langsung menenggak kopi (yang asamnya tinggi pula) akan mulas. Teh adalah teman pagi yang enak. Tidak bikin mulas. Kenapa tak berangkat siang? Akan lebih banyak waktu terbuang.

30 Jul 2009 |
kertas tulis (24)

Belakangan ini kian banyak “warung modern” di ibu kota yang menyediakan minuman tradisional semacam wedang angsle atau wedang ronde. Seperti yang kukunjungi beberapa waktu lalu. Terik panas di luar tidak meredam keinginan untuk menyeruput wedang angsle, karena bagian dalam gedung perkantoran cenderung bersuhu seperti di pegunungan. Anomali.
Ketika memasuki sebuah warung modern yang menghidangkan berbagai santapan dan minuman tradisional, maka sebetulnya kita bukan lagi mencari rasa pemanja lidah. Sebuah cara baru untuk mengasah ingatan akan kenangan masa lalu. Nostalgia yang terbungkus nuansa tradisional.
29 Jul 2009 |
kertas tulis (24)

Masihkah kamu ingat pertemuan lima bulan yang lalu di kamar ini? Kita bercengkerama sampai pagi, membicarakan banyak hal sembari mengikis penat dan rindu. Di selatan ibu kota yang sesak, ternyata masih ada pula sebuah sudut yang adem dan cukup tenang. Aku datang lebih dulu dan menyiapkan minuman, lalu kamu menyusul selepas acara di sebuah teater yang hanya sepelemparan batu dari sana. Cerita-ceritamu tidak pernah membosankan dan nyaris selalu membuat orang lain terpancing untuk bertanya dan bertanya. Jangan salahkan aku kalau ingin selalu menagih kisah baru di sebuah kamar, karena tempat pertemuan lain selalu dibatasi waktu dan kebisingan.
“Aku kangen ngobrol ngalor ngidul panjang lebar denganmu,” kataku.
“Suatu saat pasti kita ketemuan lagi, ngeteh, bertukar cerita,” jawabmu.
“Aku tidak begitu suka teh,” tukasku, “tapi tidak apa-apa. Boleh saja dalam sebuah pertemuan seseorang ngeteh dan yang lainnya ngopi.”
Kamu mengiyakan saja ucapanku.