Lipstik di Bibir Cangkir

19 Nov 2008 | kertas tulis (21)


\

Malam itu lobi hotel tampak sepi. Hanya ada beberapa orang di sana. Seorang pemuda bercelana pendek yang asyik berselancar di dunia maya dengan laptopnya. Seorang pria kulit putih, entah dari negara mana, sibuk mondar-mandir dari kursi bar ke lounge, minta saluran TV diganti-ganti. Seorang pramutama bar perempuan yang cantik dan bersikap sangat lembut. Seorang pramuhotel yang sibuk melayani pertanyaan si pria kulit putih yang bertubi-tubi. Rupanya mereka pernah main kartu bersama malam sebelumnya.

Ketika kamu datang, aku belum sempat menyeruput kapucino yang mulai menghangat. Lalu kita mencoba koneksi internet dengan laptopku, namun gagal berkali-kali. “Laptop yang bingung, persis seperti orangnya yang suka bingung,” katamu. Malam itu Jakarta diguyur hujan, tapi candamu membuatku tak kedinginan. Di lobi hotel itu, setiap orang meneruskan kegiatannya masing-masing. Semakin lama, suara si pria kulit putih bercampur suara TV semakin semarak menghiasi ruangan dan membuat suasana jadi tidak tenang.

Laptop kumatikan di pengujung kencan, namun genggaman tanganmu menandakan malam masih panjang. Mengiakan ajakanmu untuk berpindah tempat, kuhabiskan kapucino yang telah mendingin. Ah, masih ada bekas lipstik di bibir cangkir yang tak sempat kuhapus karena tergesa. Kamu tersenyum, “Lebih baik di bibir cangkir daripada di kerah kemeja.”

 

Menakar Ketidakpantasan

14 Nov 2008 | kertas tulis (21)

 

grand flora kemang

Di kamar hotel di bilangan Kemang, Jakarta Selatan ini, gula, kopi dan teh tersedia masing-masing lebih dari dua sachet. Cocok untuk mereka yang check in beramai-ramai. Salah seorang kenalan lama pernah mengeluhkan kebiasaan wanitanya untuk bermalam di kamar hotel ketika pekerjaan di kantor menumpuk. Menurutnya, itu sama sekali tidak pantas. Aku jadi teringat sahabat lama yang kadang check in bersama sekian orang anak buahnya, ditanggung kantor, ketika mereka harus mengejar tenggat keesokan hari padahal pekerjaan hari itu baru usai selewat tengah malam. Mereka ke hotel untuk sekadar menumpang mandi dan memejamkan mata sejenak. Pulang ke rumah tidak menjadi pilihan di saat-saat tertentu, terutama jika pada pagi hari menuju kantor harus menghadapi kemacetan luar biasa.

Aku tidak terlalu menanggapi keluhan si kenalan lama, juga tidak mempertanyakan kebiasaan wanitanya. Menurutku, yang tidak pantas adalah jika aku check in ke kamar hotel untuk mencari hiburan dengan biaya dinas.

– Kamu juga pernah sengaja check in untuk bekerja, kan? Apa kamu tahu, Iwan Simatupang melahirkan karya-karya monumentalnya selama tinggal di sebuah kamar hotel?