06 Aug 2009 |
Paman Tyo (12)
Kebetulan saya dan keluarga mendapatkan meja yang merapat ke dinding. Makanan belum datang, keisengan saya sudah muncul. Wadah kantong gula saya pindahkan ke atas permukaan tonjolan dinding. Permukaan itu mendapatkan cahaya dari bawah sebagai cara untuk menonjolkan dekorasi ruangan. Dan inilah hasilnya. Sudut pengambilan yang lain pernah saya muat di Oh!.
01 Oct 2008 |
Paman Tyo (12)

Sabtu 27 September. Bukan hari kerja. Suasana libur jelang Lebaran kian terasa. Jakarta menyepi. Apalagi pagi sekitar setengah tujuh. Perut lapar menuntut ganjal. Misalkan sudah siang, mendapatkan warung buka pun sulit. Akhirnya bersua kedai donat 24 jam. Si kecil tak kelaparan. Pagi itu lama-lama kedainya ramai. Banyak orang sarapan. Sebagian membawa anak. Tapi ini perut Jawa. Lebih enak sarapan dengan nasi. Bukan kroisan dengan teh ala Inggris. Teh pagi yang tentu saja butuh gula. Selebihnya adalah melalap setumpuk koran yang dibeli dari pengasong di jalan. Untuk mengisi saat menunggu. Si kecil terus membaca majalah yang dibawa dari rumah.
09 Sep 2008 |
Paman Tyo (12)
Tak sopan datang terlambat. Tapi lalu lintas Ibu Kota kadang sulit ditebak. Maka daripada terlambat lebih baik datang lebih awal. Jauh lebih awal. Selebihnya adalah pemanfaatan waktu. Untunglah beberapa gedung perkantoran punya kedai. Misalnya salah satu menara di Mega Kuningan Jakarta. Bukan baca, bukan online, waktu dimanfaatkan untuk menikmati rasa terkantuk-kantuk. Menjemukan. Apa boleh buat. Demi tetesan rezeki dari orang yang akan saya temui.
