x-tra

sugar plantation pabrik gula hindia belanda

Mungkin manusia mengenal gula ketika mereka mencecap manis rasa madu, buah, kembang, dan dedaunan. Kemudian tebu dan gula olahannya memasuki peradaban. Kita mengenal gula batu dan gula pasir. Karena gula baru itu pula tanah jajahan di Timur menjadi perkebunan tebu.

november 1828 (teguh karya)

Hindia Belanda (terutama Jawa) mengenal perkebunan tebu saat Tanam Paksa (1830-1870) — tapi film November 1828 (Teguh Karya, 1977, berlatar Perang Jawa [Perang Diponegoro]) sudah menampilkan ladang tebu di Bantul, DIY, dalam latar gambar.

Industri gula pasir dan perkebunan tebu (selain perkebunan lain) telah menumbuhkan sebuah kelas priyayi baru, yaitu para tuan dan mandor. Lebih dari itu, gula telah melahirkan konglomerasi, yaitu Oey Tiong Ham (kemudian warisannya menjadi Rajawali Nusantara). Beberapa pabrik gula warisan Belanda kemudian dinasionalisasikan ke dalam PTP (dulu PNP). Keraton Surakarta maupun Yogyakarta juga memiliki pabrik gula yang dulu memberikan pemasukan besar.

Ada yang lucu dari industri gula. Yakni julukan lucu untuk sebuah profesi, yaitu “dokter gula”. Itu bukan dokter melainkan analis pada laboratorium pemeriksa kualitas tebu dan gula. Pernah ada sekolahnya, bernama Akademi Gula Negara, Yogyakarta, yang kemudian beralih nama menjadi Lembaga Pendidikan Perkebunan.

Industri gula juga memperkenalkan sebuah pesta rakyat setahun sekali, biasanya disebut “wiwit” (Jawa: mulai), yang berlangsung di kompleks pabrik, berupa pasar malam dan hiburan. Setelah masa panen dan produksi, para petinggi pabrik gula menerima tantiem atau bonus atau entah apa yang disebut “icip-icip”. Ketika sebagian pabrik gula negara tutup, festival dan bagi-bagi tezeki itu pun menguap. Rel dan roli yang membelah lahan persawahan pun tinggal kenangan.

gula impor atau selundupan? pokoknya dimusnahkan

Pada masa Orde Baru, meneruskan masa-masa sebelumnya, perkebunan tebu menjadi ajang konflik petani dan pabrik gula milik negara. Bentuk perlawanan petani, daripada merugi karena rendemen, adalah membakar tanaman tebunya sendiri. Ada pula cara lain, membawa tebu ke daerah lain, dengan truk, agar mendapatkan keuntungan yang layak. Bagi Koramil, dan jenjang komando yang lebih tinggi, persoalan petani adalah hal yang selalu diwaspadai. Konon ada “bahaya kiri”.

Adapun di tangan swasta, urusan gula pascakrismon juga menimbulkan ketegangan. Dua konglomerat bersengketa soal lahan tebu dan pabrik gula melalui perantaraan BPPN. Salah satu eksesnya, seorang pengacara terkemuka, yang pernah berklienkan BPPN maupun salah satu pihak yang berseteru, akhirnya dipecat oleh korpsnya sendiri (2008).

gulaku makindo sugar group

Gula pasir, sebagai salah satu mata sembilan bahan kebutuhan pokok, jelas merupakan bisnis besar. Itulah sebabnya impor gula dan tata niaganya bisa mengundang skandal.

Di luar karut marut gula dan kepahitan di balik kemanisan, ada hal yang ringan, hedonistis, dan mungkin menjadi kegenitan kelas menengah. Desain kemasan gula pasir dalam kantong kecil bertumbuh. Sebagian orang menjadikannya sebagai koleksi. Banyak web di luar negeri yang membahas sugar packet.

Selanjutnya, silakan bermain-main di sini. Abaikan tulisan di atas yang tanpa rujukan sama sekali. :)

PS:

Siapa pemain utama pengemasan gula (dan garam berikutlada) dalam kantong kertas di Indonesia? Sejauh ini masih PT Samudra Montaz. Orang bilang, “Cuma mewadahi gula apa sih susahnya?” Nyatanya jumlah pemain tak banyak amat.


Naskah ini sumbangan seorang blogger yang ditulis di notepad tanpa browsing di internet dengan alasan tidak ada waktu. :)